Ilustrasi (AFP PHOTO/STR)
Ilustrasi (AFP PHOTO/STR)

Eksekutif Keuangan Kehilangan Kepercayaan terhadap Ekonomi Tiongkok

Ekonomi ekonomi china tiongkok
Angga Bratadharma • 25 Desember 2018 13:02
Beijing: Hasil survei yang dilakukan oleh Deloitte menunjukkan risiko perdagangan yang meningkat menyeret kepercayaan para pejabat keuangan senior pada perusahaan yang beroperasi di Tiongkok. Tidak ditampik, sengketa dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok masih belum mencapai kata sepakat.

Adapun Deloitte mengumpulkan para eksekutif keuangan sebanyak dua kali dalam setahun untuk menanyakan sikap mereka terhadap perdagangan dan bisnis yang nantinya dipergunakan untuk survei CFO di Tiongkok. Survei ini menjadi penting guna melihat bagaimana situasi dan kondisi perekonomian Tiongkok.

Ketika diminta untuk menggambarkan perubahan sentimen selama enam bulan terakhir, sebanyak 82 persen responden mengatakan pandangan ekonomi mereka menjadi kurang optimistis. Itu menandai perubahan signifikan dari jajak pendapat sebelumnya, di mana hanya 30 persen yang kurang optimistis.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Telah ada perubahan tajam dalam sentimen," kata Mitra Pengelola Nasional Program CFO Deloitte Tiongkok William Chou, seperti dikutip dari CNBC, Selasa, 25 Desember 2018. Pernyataan itu dengan mengutip sejumlah faktor termasuk kurangnya resolusi untuk konflik tarif yang sedang berlangsung antara Beijing dan Washington serta kondisi pasar saham Tiongkok yang tengah kesulitan. Adapun pelemahan pasar saham sebagian dituduh akibat perang perdagangan yang sedang berlangsung antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Namun tidak dipungkiri, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada awal bulan ini menyatakan gencatan senjata 90 hari dalam konflik sambil menunggu negosiasi lebih lanjut. Akan tetapi sejumlah tarif yang telah diberlakukan oleh kedua belah pihak tetap ada dan prospek resolusi masih belum jelas.

Deloitte menerima 108 tanggapan jajak pendapat dari para eksekutif di perusahaan campuran multinasional, milik negara, dan perusahaan swasta yang beroperasi di daratan Tiongkok, Hong Kong, dan Makau. Survei dilakukan antara September dan November.

"Sebanyak 69 persen responden memegang posisi di level CFO atau direktur keuangan, sedangkan delapan persen adalah wakil presiden," kata Deloitte.

Survei juga menemukan bahwa 59 persen responden berpikir volume perdagangan akan menurun di tahun depan, sementara 56 persen mengatakan perusahaan mereka sudah atau diperkirakan akan terpengaruh oleh kenaikan tarif.

Ditanya apa negara atau suatu wilayah akan mendapat manfaat dari pergeseran pola perdagangan, sebanyak 53 persen eksekutif mengatakan Asia Tenggara akan melihat peningkatan terbesar dalam volume ekspor, dengan hanya sembilan persen memilih Tiongkok.

"Asia Tenggara telah mengembangkan dirinya sebagai pusat manufaktur dan perubahan mungkin memberikan peluang yang tidak terduga. Wilayah ini juga dapat mengambil manfaat dari perusahaan yang menggeser kapabilitas manufaktur untuk menghindari beberapa langkah proteksionisme perdagangan," kata Deloitte.

 


(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi