Tiongkok tak Mau Ada Perang Dagang dengan AS
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Beijing: Tiongkok mengatakan tidak mau ada perang dagang dengan Amerika yang telah memulainya dengan dikeluarkannya ancaman tarif bea masuk baru kepada produk dari negeri Panda itu, dan akan membalas setiap tindakan yang dilakukan pemerintahan Donald Trump.

Pemerintahan Trump mulai mengenakan tarif bea masuk baru pada impor produk Tiongkok senilai USD34 miliar mulai Jumat, 6 Juli 2018 sebagai tanda perang dimulai. Demikian seperti dikutip dari Antara, Jumat, 6 Juli 2018.

Trump juga telah mengancam akan meningkatkan bea masuk kepada produk impor Tiongkok hingga senilai USD450 miliar jika Tiongkok membalas tindakan Amerika yang pertama. Sudah tentu kebijakan itu akan berdampak langsung pada gejolak pasar keuangan, harga saham, dan perdagangan dunia, terutama komoditas kedelai hingga batu bara.

Pemerintah Tiongkok mengatakan tidak akan "meletuskan tembakan pertama", tapi direktorat bea cukai negeri itu menegaskan bahwa tindakan balasan Tiongkok akan mulai berlaku setelah pengenaan bea masuk pada produk Tiongkok oleh Amerika mulai berlaku.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers, pekan lalu, juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng memperingatkan tarif bea masuk Amerika akan memukul mata rantai pasokan internasional, termasuk perusahaan-perusahaan asing di Tiongkok.

"Jika AS menerapkan kebijakannya, maka akan menambah mahal produk semua perusahaan dari berbagai negara, termasuk produk perusahaan Tiongkok dan AS," kata Gao.

"Tindakan Amerika pada dasarnya menyerang pasokan global dan harganya. Sederhananya, begitu Amerika AS menembakan perang dagang maka seluruh dunia kena tembak, termasuk Amerika sendiri," tegasnya.

"Tiongkok tidak akan tunduk di bawah ancaman dan tindakan premanisme serta tidak akan menggoyahkan tekad untuk bertahan pada perdagangan bebas dan sistem multilateral," tambah dia.

Saat ditanya apakah perusahaan AS akan ditargetkan "tindakan kualitatif" di Tiongkok dalam perang dagang ini, Gao mengatakan pemerintahannya akan melindungi hak hukum semua orang asing perusahaan di negara ini.

"Kami akan terus menilai dampak potensial dari perang dagang yang diprakarsai AS pada perusahaan dan akan membantu perusahaan mengurangi kemungkinan guncangan," jelasnya.

Gao mengatakan perdagangan luar negeri Tiongkok diperkirakan akan berlanjut stabil di semester kedua tahun ini, meskipun investor takut perang dagang akan memberikan pukulan.

"Perusahaan asing di Tiongkok memiliki kontribusi ekspor sebesar USD20 miliar atau 59 persen dari USD34 miliar ekspor dari Tiongkok yang akan dikenakan tarif AS baru, dengan perusahaan AS terhitung," tutur Gao.

Secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lu Kang mengabaikan pertanyaan apakah ada upaya untuk memulai pembicaraan baru dengan Amerika Serikat.

"Kami tentu saja tidak ingin berperang, tetapi jika ada kepentingan kami dirugikan, maka tentu saja itu kami memiliki hak untuk melindungi kepentingan kami, " ujar Lu Kang.

Tiongkok rencananya memberlakukan tarif bea masuk baru untuk ratusan barang impor dari Amerika, termasuk kedelai, sorgum, dan kapas, yang akan memukul produksi mengancam petani Amerika  yang mendukung Trump, seperti Texas, dan Iowa.

Impor kedelai dari Amerika yang akan dikenakan bea masuk baru, membuat para petani Tiongkok khawatir akan mengganggu pasokan, mengurangi  marjin keuntungan dan pada akhirnya melambungkan harga eceran daging babi di Tiongkok sebagai dagangan daging paling laris.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id