Presiden Joko WIdodo. MI/RAMDANI.
Presiden Joko WIdodo. MI/RAMDANI.

Jokowi Minta Tiongkok Beri Pinjaman Berbunga Murah pada Investornya

Ekonomi indonesia-tiongkok
Nia Deviyana • 02 Juli 2019 19:22
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan agar pemerintah Tiongkok bisa memberikan pinjaman berbunga murah lewat skema Belt and Road Initiative (BRI).
 
Adapun melalui skema ini, dana murah untuk proyek-proyek investasi di Indonesia tidak diberikan oleh pemerintah Tiongkok kepada pemerintah Indonesia melainkan kepada perusahaan Tiongkok yang bekerja sama dengan perusahaan Indonesia. Usulan itu disampaikan Jokowi saat pertemuan bilateral dengan Presiden Xi Jinping dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Osaka, pekan lalu.
 
"Presiden usulkan special fund dengan bunga murah untuk perusahaan-perusahaan Tiongkok yang investasi di empat koridor, dan mitranya perusahaan Indonesia, sehingga perusahaan Indonesia bisa menikmati pinjaman yang lebih murah," ujarnya saat berbincang dengan media di kantornya, Jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Luhut menilai dibentuknya dana khusus berbunga murah bisa membantu perputaran uang di Indonesia. Terlebih, proyek investasi di empat koridor itu jumlahnya mencapai miliaran dolar AS. Luhut menilai, pemerintah Tiongkok sepakat untuk menyusun struktur dana khusus tersebut.
 
"Presiden Xi Jinping sepakat untuk menyusun dana khusus itu. Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sedang mengerjakan strukturnya," imbuhnya.
 
Laporan Bank Dunia di Washington, belum lama ini menyatakan pembangunan infrastruktur yang dibiayai oleh Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok bisa mempercepat perkembangan ekonomi dan mengurangi kemiskinan di banyak negara berkembang.
 
Pada laporan tersebut disebutkan bahwa BRI Tiongkok, yang akan menghubungkan China dan Eropa melalui Asia Tengah dan Selatan dengan pelabuhan, jalur kereta, jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya, bisa menaikkan taraf hidup 32 juta orang jika diterapkan secara penuh. Namun, Bank Dunia juga tetap menyertakan adanya risiko signifikan yang mungkin dialami.
 
"Untuk mencapai ambisi BRI China diperlukan reformasi yang juga sama ambisiusnya dari para negara peserta," kata Wakil Presiden Bank Dunia Bidang Pemerataan Pertumbuhan, Ceyla Pazarbasioglu, seperti dikutip dari Antara.
 
Peningkatan laporan data dan transparansi, khususnya mengenai pinjaman, pengadaan barang pemerintah yang terbuka, serta kepatuhan terhadap standar sosial dan lingkungan sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan program tersebut.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif