Ilustrasi. FOTO: Xinhua
Ilustrasi. FOTO: Xinhua

Hubungan AS-Iran Tegang, Harga Minyak Dunia Melesat

Ekonomi minyak mentah
Angga Bratadharma • 04 Januari 2020 09:01
New York: Serangan udara Amerika Serikat (AS) yang telah menewaskan salah satu jenderal paling kuat Iran mengirim harga minyak secara signifikan lebih tinggi pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Hal itu terjadi karena para pelaku pasar khawatir meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu aliran energi di AS.
 
Mengutip Xinhua, Sabtu, 4 Januari 2020, West Texas Intermediate (WTI) pada pengiriman Februari naik USD1,87 menjadi di USD63,05 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini terjadi setelah diperdagangkan setinggi USD64,09.
 
Sedangkan minyak mentah brent untuk pengiriman Maret melonjak sebanyak USD2,35 menjadi USD68,60 per barel di London ICE Futures Exchange setelah diperdagangkan setinggi USD69,50 per barel.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jelas ada tingkat baru risiko geopolitik di pasar, tercermin oleh reaksi langsung pasar yang mendorong Brent naik beberapa dolar," kata Richard Nephew dan Jason Bordoff, cendekiawan dari Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, dalam sebuah catatan.
 
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah meningkat secara dramatis setelah pembunuhan Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani dalam serangan udara AS pada Jumat di ibu kota Irak, Baghdad.
 
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengonfirmasi pembunuhan Soleimani, komandan Pasukan Quds dari IRGC, dalam serangan udara di bandara internasional Baghdad oleh helikopter AS di pagi hari.
 
Sementara itu, Departemen Pertahanan AS mengumumkan melakukan serangan di bawah arahan Presiden Donald Trump sebagai tindakan defensif terhadap Soleimani, yang katanya merencanakan serangan lebih lanjut terhadap diplomat dan anggota layanan AS di Irak.
 
Pejabat senior Iran sangat mengutuk pembunuhan Soleimani, sementara bersumpah untuk membalas dendam. "Pelaku pasar khawatir bahwa ketegangan antara Iran dan AS dapat berdampak pada stabilitas politik Irak dan produksi minyak di produsen OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) terbesar kedua setelah Arab Saudi," kata analis di bank investasi Swiss UBS.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif