AS: Tiongkok Tidak Memiliki Transparansi
Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin (AFP PHOTO/FREDERIC J BROWN)
Washington: Washington kembali menolak menyebut Tiongkok sebagai manipulator mata uang, tetapi menekankan kejatuhan yuan dan praktik pertukaran mata uang Beijing adalah sebuah perhatian khusus. Adapun Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Amerika Serikat, yang kini satu sama lain sedang berselisih.

"Perhatian khusus itu terkait kurangnya transparansi mata uang Tiongkok dan melemahnya mata uang baru-baru ini," kata Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, seperti dikutip dari AFP, Kamis, 18 Oktober 2018.

"Ini merupakan tantangan besar untuk mencapai perdagangan yang lebih adil dan lebih seimbang dan kami akan terus memantau dan meninjau praktik mata uang Tiongkok, termasuk melalui diskusi yang sedang berlangsung dengan People's Bank of China," tambah Mnuchin.

Dalam laporannya, Departemen Keuangan AS menambahkan Jerman, India, Jepang, Korea Selatan, dan Swiss tetap pada daftar pengawasan negara-negara yang praktik mata uangnya membutuhkan perhatian khusus. Washington telah lama berpendapat bahwa Beijing mempertahankan mata uangnya secara artifisial rendah untuk membuat ekspornya lebih kompetitif.

Dalam beberapa tahun terakhir, yuan atau renminbi (RMB) telah menguat dan ekonom sekarang mengatakan itu lebih sesuai dengan fundamental ekonomi Tiongkok. Namun, karena suku bunga AS telah meningkat, USD telah menguat lebih jauh, yang membuat ekspor Amerika lebih mahal.

"Pergerakan terakhir dalam mata uang TIongkok belum berada pada arah yang akan membantu mengurangi surplus perdagangan besar Tiongkok. Staf keuangan memperkirakan bahwa intervensi langsung Tiongkok di pasar valuta asing telah terbatas tahun ini," ungkap laporan yang dirilis.

Washington dan Beijing terkunci dalam pertempuran sengit mengenai defisit perdagangan di antara kedua negara. Kondisi itu akhirnya memicu terjadinya perang dagang yang ujungnya memberikan efek negatif terhadap ekonomi dunia, terutama pasar saham.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id