Ilustrasi. Foto ; AFP/Mark Ralston.
Ilustrasi. Foto ; AFP/Mark Ralston.

Ekonomi Tiongkok Melemah Picu Perselisihan Dagang Negara Berkembang

Ekonomi ekonomi global
Nia Deviyana • 24 September 2019 15:12
Jakarta: Laporan Kekayaan Global Allianz edisi kesepuluh menunjukkan, pelemahan ekonomi Tiongkok yang nilai asetnya jatuh hingga 3,4 persen berperan cukup signifikan terhadap negara berkembang. Meksiko dan Afrika Selatan contohnya, juga terpaksa menelan kerugian yang signifikan pada 2018 karena timbul perselisihan dagang.
 
"Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan aset finansial di wilayah miskin rata-rata 11,2 persen lebih tinggi daripada di wilayah kaya, termasuk pada 2018. Tampak bahwa upaya negara-negara miskin dalam mengejar ketertinggalan tak bermakna akibat timbulnya perselisihan dagang," ujar Senior Economist Michaela Grimm Allianz Group, salah satu penulis laporan ini, melalui keterangan resminya, Selasa, 24 September 2019.
 
Negara-negara industri pun tidak mendapatkan keuntungan dari situasi ini. Beberapa negara industri harus menghadapi pertumbuhan aset yang negatif seperti Jepang yang turun 1,2 persen, Eropa Barat 0,2 persen, dan Amerika Utara turun 0,3 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Begitu juga di wilayah Asia, tidak termasuk Jepang, yang aset finansialnya menurun sebesar 0,9 persen. Penurunan ini dipicu oleh anjloknya bidang sekuritas, terutama ekuitas dan dana investasi, hingga 14 persen. Di sisi lain, deposito bank serta asuransi dan tabungan pensiun tumbuh dengan sehat, masing-masing sebesar 8,7 persen dan 8,2 persen.
 
Jika struktur portofolio dianalisis, ada satu tren yang muncul dengan jelas, yakni seiring dengan makin kompleksnya pasar finansial Asia, jumlah aset yang berada dalam bentuk simpanan bank mengalami penurunan signifikan, yaitu sebesar 46,4 persen pada akhir 2018, atau 16 persen di bawah level di awal abad ini.
 
Sejalan dengan hal ini, porsi sekuritas naik dari 20 persen menjadi 36,2 persen seiring makin banyaknya rumah tangga yang menginvestasikan tabungan mereka di pasar modal. Namun, porsi asuransi dan tabungan pensiun hanya bernilai 16 persen, yaitu separuh level global.
 
"Ini adalah paradoks perilaku menabung. Penduduk negara-negara dan wilayah Asia menua dengan cepat, dan banyak orang lebih giat menabung karena skema tabungan pensiun masyarakat di kebanyakan negara dan wilayah itu belum cukup matang, atau hanya menyediakan dana pensiun untuk kebutuhan dasar masa tua," paparnya.
 
Di saat yang bersamaan, lanjut Michaela, masyarakat juga menjadi enggan memanfaatkan produk-produk yang menawarkan perlindungan yang paling efektif untuk masa tua, yaitu asuransi jiwa dan anuitas.
 
"Padahal dalam kondisi seperti ini, asuransi penting sebagai inisiatif untuk meningkatkan literasi dan aksesibilitas finansial," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif