Ilustrasi (AFP/Johannes EISELE)
Ilustrasi (AFP/Johannes EISELE)

Perang Dagang AS-Tiongkok Dinilai Berdampak ke Obligasi

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 25 Februari 2019 08:02
New York: CEO BlackRock Larry Fink menilai hasil dari perang dagang dan negosiasi yang sedang berlangsung antara dua ekonomi terbesar di dunia adalah bahaya yang mengancam. Meski demikian, dampaknya tidak langsung terhadap aktivitas perekonomian atau pertumbuhan.
 
Ancaman yang diutarakan Fink tidak banyak dibicarakan, tetapi perlu dikemukakan karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok bisa memberi efek jangka panjang terhadap obligasi Pemerintah AS. Perang dagang yang sedang terjadi perlu dihentikan demi kepentingan bersama.
 
"Apa yang membuat saya khawatir tentang percakapan antara AS dan Tiongkok adalah Tiongkok memiliki kumpulan USD1,3 triliun atas obligasi Pemerintah AS. Mereka telah mengakumulasi surat utang tersebut karena defisit perdagangan," kata Fink, seperti dikutip dari CNBC, Senin, 25 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sekarang karena Tiongkok mengurangi defisit perdagangannya dengan AS, kemungkinan mereka mengurangi kebutuhan secara besar atas surat utang Pemerintah AS," tambahnya.
 
Tiongkok adalah pembeli terbesar utang negara AS. Pada Januari, laporan media mengungkapkan bahwa para pejabat di Beijing merekomendasikan Pemerintah Tiongkok untuk menurunkan atau bahkan menghentikan pembelian surat utang AS. Langkah ini sejalan dengan perang dagang yang sedang terjadi.
 
Prospek itu adalah sesuatu yang oleh para analis pasar gambarkan sebagai ancaman besar bagi pasar, karena kebutuhan keuangan surat utang naik secara signifikan pada 2018 dan diproyeksikan terus meningkat lebih tajam daripada beberapa tahun terakhir.
 
Dan sebagai CEO dari dana manajemen aset terbesar di dunia, Fink selalu mengawasi secara jangka panjang. Menurutnya kondisi ini adalah sesuatu yang tidak cukup hanya dibicarakan. "Defisit AS tampaknya masih tumbuh pada USD1 triliun," kata Fink.
 
"Jadi dalam jangka panjang sedikit lebih mengganggu bagi saya untuk melihat implikasi dari pembelian utang Tiongkok yang lebih kecil dengan defisit yang meningkat. Jadi pertanyaan yang lebih besar adalah siapa yang akan menjadi pembeli pengganti untuk membeli ini," tukasnya.
 
Meski demikian, beberapa analis berpendapat ancaman terhadap utang AS menjadi berlebihan. Apabila Tiongkok membuang kepemilikan utangnya di AS kemungkinan akan menjadi bumerang bagi Tiongkok karena Tiongkok harus menjual sebagian kepemilikan dengan kerugian.
 
Kondisi itu akan mengakibatkan hilangnya aliran modal dan sekaligus melemahkan dolar Amerika Serikat (USD) yang pada gilirannya akan membuat ekspor Amerika Serikat lebih menarik. Dan negara-negara lain juga bisa ikut membeli obligasi-obligasi itu, yang akhirnya menjaga suku bunga acuan stabil.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif