Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Harga Minyak Dunia Menanjak

Ekonomi minyak mentah
Angga Bratadharma • 25 Mei 2019 09:04
New York: Harga minyak dunia naik pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena rig minyak Amerika Serikat (AS) turun minggu ini. Penurunan ini mengimbangi kekhawatiran atas meningkatnya stok minyak mentah AS. Sedangkan negara anggota OPEC masih terus berupaya menjaga stabilitas dengan harapan mengangkat kembali harga minyak dunia.
 
Mengutip Xinhua, Sabtu, 25 Mei 2019, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli menambahkan USD0,72 menjadi menetap di USD58,63 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik USD0,93 menjadi ditutup di USD68,69 per barel di London ICE Futures Exchange.
 
Jumlah rig AS yang diklasifikasikan sebagai pengeboran minyak turun lima di 797, menurut data mingguan yang dirilis oleh Baker Hughes, sebuah perusahaan jasa ladang minyak yang berbasis di Houston.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Persediaan minyak mentah AS naik 4,7 juta barel dalam pekan yang berakhir 17 Mei, Administrasi Informasi Energi AS melaporkan. Dengan 476,8 juta barel, persediaan minyak mentah AS sekitar empat persen di atas rata-rata lima tahun untuk tahun ini, kata laporan itu.
 
Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik sebanyak 95,22 poin atau 0,37 persen menjadi 25.585,69. Kemudian S&P 500 meningkat sebanyak 3,82 poin atau 0,14 persen menjadi 2.826,06. Indeks Komposit Nasdaq naik 8,72 poin atau 0,11 persen menjadi 7.637,01.
 
Sebanyak sembilan dari 11 sektor S&P 500 utama berakhir lebih tinggi, dengan keuangan dan material naik sebanyak 0,77 persen dan 0,50 persen, melampaui sisanya. Kebutuhan pokok konsumen turun 0,40 persen, kelompok dengan kinerja terburuk. Utilitas juga kesulitan.
 
Tokoh perdagangan Saham Boeing naik sebanyak 1,24 persen, memimpin kenaikan di Dow Jones. Sedangkan Caterpillar, saham sensitif perdagangan lainnya, ditutup naik 0,52 persen. Sebelumnya ekuitas AS jatuh pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB) di tengah aksi jual tajam di saham teknologi dan energi.
 
Di sisi ekonomi, Departemen Perdagangan melaporkan, pesanan baru untuk barang-barang tahan lama buatan AS turun 2,1 persen pada April menjadi USD248,4 miliar, menyusul kenaikan 1,7 persen pada Maret. Ekonom yang disurvei oleh MarketWatch memperkirakan penurunan pesanan baru 2,4 persen pada April.
 
Sebelumnya, mayoritas ekonom yang disurvei selama bulan lalu mengungkapkan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah meningkatkan risiko resesi AS. Kini kondisi itu menempatkan risiko resesi bisa terjadi dalam dua tahun ke depan dengan skor 40 persen.
 
Angka itu naik dari median 35 persen dalam jajak pendapat bulan sebelumnya. Penurunan itu merupakan yang pertama kali ketika diadakan sejak Desember tahun lalu, sebelum aksi jual di Wall Street ketika 2018 berakhir, sebagian karena investor khawatir.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif