Ahli Strategi Kaji Dampak Perebutan Kekuasaan AS-Tiongkok ke Pasar Keuangan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam sebuah foto (FOTO: AFP)
New York: Pertempuran antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) untuk menjadi negara paling kuat di dunia bisa menjadi momen yang menentukan pada abad ini untuk pasar keuangan. Pelaku pasar tengah mencerna berita tentang perjanjian antara Korea Utara dan Amerika Serikat berkaitan denuklirisasi dan rezim perdamaian abadi di Semenanjung Korea.

Para analis dan pedagang sedang meneliti perjanjian bersejarah untuk memahami apa arti momen ini bagi dunia dan pasar keuangan. Namun, menurut Kepala Strategi Valuta Asing Rabobank Jane Foley, gambaran yang lebih luas harus mencakup hubungan antara Tiongkok dengan AS.

"Saya pikir sudah sangat jelas kita melihat perebutan kekuasaan atau berada di tengah-tengah perebutan kekuasaan antara AS dan Tiongkok. Ini dimainkan melalui perdagangan," kata Foley, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 14 Juni 2018.



"Kami sebelumnya mengerti bahwa Tiongkok mungkin menyukai Korea Utara untuk berada di tempat sebagai semacam penyangga antara dirinya dan Barat. Apa artinya (perjanjian AS-Korut) ini berarti maju. Perebutan kekuasaan ini mungkin adalah peristiwa terbesar bagi pasar. Dalam dekade ini, mungkin, mungkin pada abad ini," tambahnya.

Selama beberapa bulan terakhir, AS telah memberlakukan tarif baru pada produk Tiongkok dalam upaya untuk mengurangi defisit perdagangan dengan negara tersebut. Tiongkok telah menyiapkan langkah-langkah balas dendam tetapi kedua negara telah mengadakan pembicaraan diplomatik untuk mencoba mencapai kompromi atas hubungan perdagangan mereka.



Tiongkok telah lama menjadi sekutu Korea Utara dan merupakan mitra dagang penting dan sumber utama makanan dan energi. "(Tiongkok) telah membantu mempertahankan rezim Kim Jong-un dan secara historis menentang sanksi keras internasional terhadap Korea Utara dengan harapan menghindari keruntuhan rezim," kata Dewan Hubungan Luar Negeri.

Karena hubungan antara AS dan Korea Utara semakin dekat maka Tiongkok dapat merasa terancam dan berpotensi mengubah sikapnya terhadap AS. Tidak ditampik, kondisi ini bisa mengubah peta perdagangan dan siapa pemilik ekonomi terkuat di dunia di masa-masa yang akan datang.

"Saya pikir seluruh hubungan kami dengan Korea Utara dan Semenanjung Korea akan menjadi situasi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kami berdua ingin melakukan sesuatu, kami berdua akan melakukan sesuatu, dan kami telah mengembangkan sebuah ikatan khusus," kata Presiden AS Donald Trump pada upacara penandatanganan dengan Kim Jong-un.

 



(ABD)