Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Tiongkok Hadapi Tingginya Utang untuk Proyek Infrastruktur

Ekonomi infrastruktur tiongkok
Arif Wicaksono • 06 Januari 2019 18:09
Beijing: Perbankan Tiongkok hadapi gelombang dari besarnya utang untuk proyek infrastruktur yang akan mencegah perlambatan ekonomi negeri Panda itu. Namun langkah yang dilakukan dengan mempermudah penerbitan surat utang itu diharapkan bisa memberikan masalah finansial bagi perekonomian Tiongkok.
 
Dikutip dari SMCP, Minggu, 6 Januari 2019, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Tiongkok mengizinkan pemerintah pusat untuk segera mengalokasikan kuota utang pemerintah lokal lebih cepat dari jadwal semula. Beijing sedang mengimplementasikan kebijakan fiskal proaktif untuk menghidupkan roda ekonomi Tiongkok ketika ekonomi Tiongkok jatuh setelah PDB-nya menyentuh titik terendah dalam satu dekade di 2018.
 
Pemerintah pun setuju dengan penerbitan obligasi lokal senilai 1,39 triliun yuan atau USD202 miliar terdiri dari 810 miliar yuan (USD117,82 miiliar) untuk obligasi spesial dan 580 miliar yuan untuk obligasi biasa. Obligasi spesial berbeda dari obligasi pemerintah lokal biasa karena itu dibayar dari proyek yang dibiayai ketimbang dari pemerintah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Disaat yang sama pemerintah masih mengkaji apakah proyek yang dibiayai obligasi itu akan memberikan hasil yang diharapkan terutama untuk jalan di wilayah terpencil, taman atau pengembangan di rumah terkecil.
 
Sebagai contoh wilayah Xiongan New District yang didesain oleh President Xi Jinping sebagai contoh kota masa depan menerbitkan obligasi 30 miliar yuan atau USD4,36 miliar pada akhir desember temasuk 15 miliar yuan obligasi spesial untuk mendanai perkembangan infrastruktur.
 
Selain pemangkasan pajak pada tahun ini, menghabiskan dana infarstruktur menjadi metode yang favorit untuk menstabilkan ekonomi tiongkok. Obligasi yang akan dikeluarkan pemerintah pada 2019 diharapkan bisa mencapai 3 triliun yuan tau mencapai USD436 miiar atau lebih tinggi dari obligasi senilai 2,18 triliun yuan di 2018.
 
Iris Pang ekonom di ING Bank mengatakan bahwa isu untuk menstabilkan pekerjaan dan melawan melemahnya pertumbuhan ekonomi, utang ini akan bisa menjadi masalah di kemudian hari.
 
Amanda Du analis senior di Moody menjelaskan bahwa investor masih belum jelas mengenai obligasi spesial yang akan diutarakan. Apalagi jika level pemerintahan regional di bawah provinsi menggunakan ini untuk membiayai proyek infrastruktur. "Semestinya dokumen obligasi hanya diminta untuk data fiskal dan ekonomi dari level provinsi, dan bukan untuk pemeirntah level bawah yang akan menimbulkan miss informasi," ujar Amanda.
 


 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif