Indeks Utama Saham Amerika Serikat Rontok
Ilustrasi (FOTO: AFP)
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir tumbang pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena beberapa saham teknologi yang paling populer berada di bawah tekanan sekali lagi, sementara penurunan tajam harga minyak juga membebani ekuitas.

Mengutip CNBC, Sabtu, 24 November 2018, indeks Dow Jones Industrial Average turun 178,74 poin menjadi 24.285,95 dan S&P 500 mundur sebanyak 0,65 persen menjadi 2.632,56. Sedangkan Nasdaq Composite merosot sebanyak 0,5 persen menjadi ditutup pada 6.938,98.

Indeks Dow Jones dan S&P 500 membukukan kinerja terburuk sejak Black Friday 2010. Sedangkan Nasdaq mengalami Black Friday terburuk sejak 2011. Untuk minggu ini, semua indeks utama turun lebih dari tiga persen. Mereka juga mengalami kerugian terbesar untuk satu minggu Thanksgiving sejak 2011.

"Saya tidak berpikir bahwa reli sudah berakhir tetapi saya pikir kita sudah dekat dengan akhir siklus. Rasanya agak tidak aman.," kata CEO Esposito Securities Mark Esposito, seraya menambahkkan pertumbuhan laba melambat, volatilitas pasar yang lebih tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang tersendat sebagai tanda siklus mata uang mungkin akan berakhir.

Facebook, Amazon, Apple, Netflix, dan Google-parent Alphabet semuanya jatuh pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Saham-saham ini, yang membentuk perdagangan "FAANG" populer, semua jatuh setidaknya 5,7 persen hingga penutupan Rabu waktu setempat.

Apple, yang telah jatuh lebih dari 25 persen sejak mencapai level tertinggi sepanjang waktu awal tahun ini, turun 2,5 persen setelah The Wall Street Journal melaporkan perusahaan berencana untuk memangkas harga untuk iPhone XR di Jepang karena tidak laku.

Saham juga di bawah tekanan karena harga minyak mentah jatuh. West Texas Intermediate futures turun lebih dari enam persen menjadi USD51,03 per barel, mencapai level terendah tahun ini. Penurunan minyak mentah terjadi pada saat ketegangan perdagangan AS-Tiongkok telah meningkatkan kekhawatiran perlambatan ekonomi.

"OPEC telah mengindikasikan mereka akan memotong (produksi), tetapi itu tidak membantu. Itu pertanda buruk. Harga minyak yang lebih rendah bukanlah pandangan yang baik untuk ekonomi," kata Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities Peter Cardillo.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id