Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. (FOTO: AFP)
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. (FOTO: AFP)

Tiongkok Tenang Hadapi Ancaman Tarif AS

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china as-tiongkok
Tesa Oktiana Surbakti • 08 Mei 2019 19:12
Beijing: Tiongkok berusaha tenang menghadapi ancaman tarif yang lebih tinggi dari Amerika Serikat (AS). Negeri Tirai Bambu disebut memiliki kepercayaan tinggi untuk menjalani pembicaraan perdagangan dengan mitranya.
 
Menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump, terkait penaikan tarif atas komoditas Tiongkok senilai USD200 miliar pekan ini, Pemerintah Tiongkok mengaku lebih tenang karena sudah menghadapi ancaman serupa sebelumnya. Hal itu dilaporkan surat kabar People's Daily.
 
"Tiongkok mempunyai keyakinan penuh dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan, yang mungkin terjadi di tengah negosiasi perdagangan Tiongkok-AS. Itulah sebabnya mengapa Tiongkok selalu bisa mempertahankan ketenangannya," bunyi komentar dalam laporan harian resmi Partai Komunis.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Laporan itu diterbitkan dengan nama pena "Zhong Sheng" yang artinya "Suara Tiongkok". Seringkali digunakan untuk memberikan pandangan surat kabar mengenai masalah kebijakan luar negeri. Dalam ulasan terpisah, kantor berita Xinhua menyebut pendekatan AS sangat disesalkan. Konsultasi merupakan cara yang tepat untuk menyelesaikan sengketa dagang bilateral.
 
"Menyoroti perang dagang Tiongkok-AS, pemerintah Tiongkok sebenarnya enggan berperan. Akan tetapi, tidak takut berperang jika diperlukan," isi laporan Xinhua.
 
Wakil Perdana Menteri (PM) Tiongkok, Liu He, akan mengunjungi Washington dengan agenda melanjutkan pembicaraan perdagangan pekan ini. Pemerintah Tiongkok menekankan pihaknya berupaya mengamankan kesepakatan untuk menghindari kenaikan tarif lebih tinggi sebagaimana ancaman Trump.
 
Di lain sisi, pejabat pemerintahan AS menuding Tiongkok telah mengingkari komitmen yang dibuat selama berbulan-bulan negosiasi. Padahal, perundingan yang berjalan memiliki tujuan mengakhiri konflik dagang. Beijing berulang kali menekankan segera melakukan perubahan dengan memperluas akses pasar seturut waktunya. Namun, respons tersebut tidak mampu meredam perselisihan perdagangan. (Channelnewsasia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif