Pertemuan IMF-WB 2018

Penguatan Fundamental Ekonomi Tepis Ketidakpastian Global

Suci Sedya Utami, Ade Hapsari Lestarini, Eko Nordiansyah, Annisa ayu artanti, Angga Bratadharma 10 Oktober 2018 12:22 WIB
ekonomi duniaIMF-World Bank
Penguatan Fundamental Ekonomi Tepis Ketidakpastian Global
Suasana IMF Press Briefing: Global Financial Stability Report (Foto: Voyage to Indonesia)
Nusa Dua: Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai negara-negara yang memiliki fundamental dan kebijakan yang baik tidak akan terpengaruh oleh kondisi global. Tidak ditampik, sekarang ini kondisi global memang tidak menentu yang salah satunya dipicu oleh perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

"Dalam kasus Nigeria mereka dipengaruhi oleh kondisi global seperti minyak," ungkap Kepala Divisi, Pasar Moneter & Pasar Modal IMF Anna Ilyina, dalam IMF Press Briefing: Global Financial Stability Report, yang merupakan bagian dari pertemuan tahunan IMF-WB 2018, di Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018.

Menurutnya tanpa fundamental ekonomi yang baik dan kebijakan yang mumpuni maka negara akan terpengaruh oleh kondisi global dan menjadi sensitif terhadap perubahan. "Saat ini kami masih dalam tahap normalisasi ekonomi untuk negara maju dan ini akan menjadi tantangan di masa depan," ungkap Anna Ilyina.

Sementara itu, Financial Counselors Tobias Adrian menambahkan, Indonesia memiliki kinerja makroekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi di angka 5,1 persen cukup baik meski terdapat depresiasi nilai tukar rupiah. Tekanan nilai tukar rupiah sejalan dengan perkasanya dolar Amerika Serikat (USD).

"Penyesuaian nilai tukar fleksibel sebenarnya adalah hal yang baik," ungkap Tobias Adrian.

Di sisi lain, Tobias Adrian menambahkan, financial technology (fintech) telah meningkatkan akses ke pembiayaan, terutama untuk rumah peristirahatan. Adapun pengembangan layanan menjadi positif untuk inklusi keuangan yang harapannya bisa mendorong tingkat kesejahteraan.

"Namun inklusi tersebut juga harus mengantisipasi risiko keamanan siber yang menyertainya," pungkas Tobias Adrian.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id