Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (FOTO: AFP)
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (FOTO: AFP)

Perang Dagang AS-Tiongkok Dinilai Tidak Menyebabkan Resesi Ekonomi

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang Trade War
Angga Bratadharma • 14 Juli 2018 18:03
New York: MKM Partners yang merupakan perusahaan riset dan perdagangan ekuitas Wall Street menyebutkan perang perdagangan dengan strategi saling membalas antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dinilai tidak mungkin menyebabkan resesi ekonomi. Namun, ada harapan agar perang dagang bisa ditekan sedemikian rupa.
 
"Konflik yang berkembang antara dua ekonomi terbesar di dunia ini tidak cukup untuk memicu kemerosotan besar karena itu hanya dapat dimulai ketika permintaan menurun dari konsumen dan bisnis," tulis Kepala Ekonom MKM Michael Darda, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 14 Juli 2018.
 
"Taksiran tarif antara AS dan Tiongkok terus meningkat. Namun, pasar pada dasarnya mengabaikan konsekuensinya. Pasar memahami bahwa resesi (setidaknya di AS) selalu dikaitkan dengan guncangan permintaan yang tidak memberikan kejutan," tulis Darda.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama krisis keuangan di 2008, guncangan permintaan negatif disebabkan oleh beberapa faktor termasuk penurunan harga rumah, penurunan subprime mortgage, dan kontraksi dalam belanja konsumen. Tentu ada harapan agar krisis keuangan tidak kembali terjadi di tengah pemulihan ekonomi dunia.
 

 
Tarif, di sisi lain, berdampak pada sisi penawaran. Ketika AS menampar negara lain dengan pajak impor, itu secara efektif meningkatkan harga yang dibayar orang Amerika untuk barang-barang asing dan mengurangi volume impor sebagai hasilnya. Dengan kata lain, itu dapat melukai pertumbuhan tetapi kemungkinan tidak menyebabkan resesi secara langsung.
 
Darda menambahkan guncangan sisi penawaran akan cenderung menaikkan harga secara sementara sambil mengurangi hasil nyata. Sedangkan sebuah bank sentral dengan mandat ganda mungkin akan mencoba untuk melihat melalui kejutan dari sisi penawaran dengan tingkat inflasi yang lebih tinggi akan menyiratkan perlunya kenaikan suku bunga jangka pendek.
 
"Yang pasti, sementara saham diperdagangkan lebih tinggi pada Kamis, pasar ekuitas telah bergolak oleh keputusan Pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif pada sejumlah barang Eropa, Kanada, dan Tiongkok selama beberapa bulan terakhir," pungkasnya.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif