Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (Nicolas ASFOURI/AFP)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (Nicolas ASFOURI/AFP)

Trump Tunda Pengenaan Tarif Baru untuk Tiongkok

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 25 Februari 2019 11:02
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana untuk menunda menu tarif tambahan kepada Tiongkok yang dijadwalkan dimulai pada 1 Maret. Pengumuman yang dilakukan oleh Trump itu lantaran dua negara ekonomi terbesar di dunia itu telah mengakhiri sengketa perdagangan yang tengah terjadi.
 
Mengutip CNBC, Senin, 25 Februari 2019, dalam serangkaian posting di Twitter, Trump mengutip kemajuan substansial dalam pembicaraan bilateral antara AS dan Tiongkok. Atas hasil tersebut, Presiden Trump mengaku dia akan menangguhkan pungutan baru yang akan terjadi pada Jumat, 1 Maret 2019, tetapi tidak mengartikulasikan tenggat waktu baru.
 
Pekan lalu, sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok sedang mendiskusikan pertemuan akhir di Maret antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Florida. KTT dijadwalkan berlangsung di klub golf Trump's Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menjelang pertemuan itu, Tiongkok telah berkomitmen untuk membeli hingga USD1,2 triliun barang AS, meskipun hingga akhir pekan lalu kedua belah pihak dikatakan berjauhan dengan isu-isu mengenai pemindahan paksa kekayaan intelektual. Atas kondisi tersebut sentimen pasar Asia bergerak lebih tinggi pada Senin.
 
Perang perdagangan AS-Tiongkok telah mengacaukan pasar, dan membayangi prospek pertumbuhan ekonomi global. Dalam sesi perdagangan baru-baru ini, investor perlahan menghargai prospek bahwa pertarungan akan diselesaikan. Pada Minggu, Dow Jones mengindikasikan pembukaan sedikit lebih tinggi di Wall Street, Senin.
 
Sementara itu, CEO BlackRock Larry Fink menilai hasil dari perang dagang dan negosiasi yang sedang berlangsung antara dua ekonomi terbesar di dunia adalah bahaya yang mengancam. Meski demikian, dampaknya tidak langsung terhadap aktivitas perekonomian atau pertumbuhan.
 
Ancaman yang diutarakan Fink tidak banyak dibicarakan, tetapi perlu dikemukakan karena perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok bisa memberi efek jangka panjang terhadap obligasi Pemerintah AS. Perang dagang yang sedang terjadi perlu dihentikan demi kepentingan bersama.
 
"Apa yang membuat saya khawatir tentang percakapan antara AS dan Tiongkok adalah Tiongkok memiliki kumpulan USD1,3 triliun atas obligasi Pemerintah AS. Mereka telah mengakumulasi surat utang tersebut karena defisit perdagangan," kata Fink.
 
Tiongkok adalah pembeli terbesar utang negara AS. Pada Januari, laporan media mengungkapkan bahwa para pejabat di Beijing merekomendasikan Pemerintah Tiongkok untuk menurunkan atau bahkan menghentikan pembelian surat utang AS. Langkah ini sejalan dengan perang dagang yang sedang terjadi.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif