World Economic Forum 2019 digelar di Davos, Swiss. (FOTO: Fabrice/AFP)
World Economic Forum 2019 digelar di Davos, Swiss. (FOTO: Fabrice/AFP)

World Economic Forum 2019

Peserta Forum Ekonomi Dunia Yakin dengan Indonesia

Ekonomi world economic forum
Ilham wibowo • 25 Januari 2019 19:21
Davos: Implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 dinilai telah menjadi magnet tersendiri bagi perusahaan multinasional. Sektor manufaktur Tanah Air diyakini strategis dalam pertumbuhan bisnis berkelanjutan.
 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan banyak perwakilan mancanegara yang menyatakan kepercayaan kepada Indonesia di kegiatan World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2019 di Davos, Swiss. Indonesia dinilai memiliki fundamental kuat lantaran salah satu negara yang stabil secara politik dan pertumbuhan ekonomi.
 
"Apalagi, dengan ketersediaan jumlah tenaga kerja, Indonesia juga menjadi daya tarik tersendiri bagi perusahaan-perusahaan di dunia untuk mendiversifikasi produknya, seperti dari Tiongkok," ujar Airlangga melalui keterangan resmi, Jumat, 25 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Airlangga optimistis dengan realisasi target dalam program pengembangan industri manufaktur di era modern tersebut. Indonesia pun diyakini bisa menduduki peringkat ke-4 dalam perekonomian dunia menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia di 2045.
 
"Di roadmap itu sudah jelas target yang tercantum, bahwa 2030 Indonesia akan menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia, kemudian target menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia di 2045," ungkapnya.
 
Airlangga menambah pelambatan pertumbuhan ekonomi lantaran isu perang dagang dan ketidakpastian global saat ini sudah menjadi fokus tersendiri dalam mengeluarkan strategi kebijakan. Pengelolaan norma baru pun dilakukan dengan melihat potensi pertumbuhan yang ada.
 
"Langkah quick wins yang dilakukan, salah satunya mendorong peningkatan investasi di lima sektor unggulan pada Making Indonesia 4.0. Jadi, kita konsisten saja dengan investasi di lima sektor itu, karena mempunyai pasar yang besar," tuturnya.
 
Peningkatan investasi terus didorong guna lebih memperdalam struktur industri di dalam negeri yang juga bertujuan untuk mensubstitusi produk impor. Investasi di sektor industri manufaktur pun naik dalam empat tahun terkahir. Pada 2014 permodalan di sektor ini tercatat sebesar Rp195,74 triliun kemudian naik menjadi Rp226,18 triliun di 2018.
 
"Dari capaian itu, kami bisa menyediakan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan yang angkanya terendah dalam empat tahun terakhir," paparnya.
 
Indonesia juga telah mengambil nilai positif dampak perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok. Negara terdampak negatif, kata Airlangga, sudah melihat Indonesia sebagai negara potensial mengalihkan unit usahanya.
 
"Bagi dua negara itu akan melihat ke kawasan regional lain, termasuk ke Indonesia. Jadi, ada investasi baru yang akan komit ke Indonesia, ini juga bisa dilihat sebagai stabilisasi bagi wilayah kita," kata Airlangga.
 
Keikutsertaan di WEF 2019 merupakan langkah untuk kalibrasi kebijakan Indonesia terkait digitalisasi ekonomi serta globalisasi. Menurutnya, langkah ini penting untuk mengetahui arah dan tujuan pembangunan Indonesia ke depan.
 
"Dengan globalisasi, atau lebih tepatnya glokalisasi ekonomi, kami ingin melihat dan merangkul lebih banyak komunitas, negara serta korporat untuk rekalibrasi kebijakan di Indonesia," pungkasnya.
 

 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif