NEWSTICKER
Ilustrasi. FOTO: AFP/JUAN BARRETO
Ilustrasi. FOTO: AFP/JUAN BARRETO

Minyak Dunia Menyusut

Ekonomi minyak mentah
Antara • 05 Februari 2020 08:01
New York: Harga minyak dunia merosot sekitar satu persen pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), ketika kekhawatiran pasar bahwa permintaan energi akan menerima pukulan jangka panjang dari wabah virus korona sehingga mendorong lebih banyak pengurangan produksi dari OPEC dan sekutunya.
 
Mengutip Antara, Rabu, 5 Februari 2020, minyak mentah berjangka Brent ditutup pada USD53,96 per barel, melemah 49 sen atau 0,9 persen. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menetap di USD49,61 per barel, kehilangan 50 sen atau satu persen. Kedua acuan harga minyak berada pada titik terendah sejak Januari 2019.
 
"Saya pikir ketakutan akan kehancuran permintaan terus benar-benar ada di pasar," kata Gene McGillian, wakil presiden riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Harga minyak merosot tajam selama dua minggu terakhir di tengah kekhawatiran atas dampak ekonomi global dari virus korona Tiongkok, yang pada Selasa waktu setempat telah menewaskan 427 nyawa, menginfeksi 20.438 orang di daratan Tiongkok dan telah terdeteksi di sekitar dua lusin negara.
 
Pada awal perdagangan, harga minyak melambung lebih tinggi di tengah harapan pengurangan produksi lebih lanjut dari OPEC+, yang terdiri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu termasuk Rusia.
 
Komite OPEC+ menimbang dampak pada permintaan minyak global dan pertumbuhan ekonomi dari wabah virus korona pada sebuah pertemuan, mendengar dari utusan Tiongkok untuk PBB di Wina dan membahas bagaimana meresponsnya.
 
Sumber yang dekat dengan masalah ini mengatakan kepada Reuters bahwa OPEC+ sedang mempertimbangkan untuk mengurangi produksi minyak mentah sebanyak 500 ribu barel per hari (bph).
 
Namun, kelompok produsen dapat menghadapi perjuangan yang berat untuk melakukan lebih banyak pemotongan segera setelah pakta yang ada disetujui dan karena ketidakpastian mengenai berapa lama krisis virus akan berlangsung.
 
"Jika kelompok produsen percaya wabah itu dapat dikendalikan, dengan efek mereda setelah periode singkat, seperti SARS, mereka memiliki opsi untuk bertahan dan menghadapi lingkungan harga yang lebih rendah sampai permintaan kembali," kata kepala strategi global komoditas di BNP Paribas, Harry Tchilinguirian, kepada Reuters Global Oil Forum.
 
Kenaikan harga juga dibatasi komentar Menteri Energi Rusia Alexander Novak. Ia tidak yakin saatnya untuk memperketat pembatasan produksi minyak. Kepala keuangan BP Brian Gilvary mengatakan dampak ekonomi dari korona akan mengurangi konsumsi minyak sepanjang tahun sebesar 300 ribu hingga 500 ribu barel per hari, sekitar 0,5 persen dari permintaan global.
 
Goldman Sachs memperingatkan bahwa dampak wabah pada permintaan kemungkinan akan membuat volatilitas harga spot naik.
 
"Harga minyak sekarang berada pada level di mana kita akan mengharapkan respons pasokan dari OPEC dan produsen serpih, dan di mana Tiongkok kemungkinan akan berusaha untuk membangun persediaan minyak mentah," kata Goldman dalam sebuah catatan.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif