Libya-Nigeria Jadi Penentu Harga Minyak Tembus USD100/Barel

Angga Bratadharma 23 Oktober 2018 15:02 WIB
minyak mentah
Libya-Nigeria Jadi Penentu Harga Minyak Tembus USD100/Barel
Ilustrasi (FOTO: AFP)
New York: Dua anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dapat segera menentukan apakah harga minyak melonjak kembali ke USD100 per barel atau tidak. Uniknya, kedua negara tersebut bukan Arab Saudi dan Iran.

Mengutip CNBC, Selasa, 23 Oktober 2018, dengan pemberian sanksi Amerika Serikat (AS) yang mencekik ekspor Iran dan produksi Arab Saudi untuk mengisi kesenjangan tersebut, penting bagi produsen besar lainnya tetap mengalirkan minyak mentah dalam beberapa bulan mendatang. Hal itu menjadi penting guna menjaga stabilitas pasar minyak dunia.

Atas kondisi itu, banyak analis memperhatikan Nigeria dan Libya, dua negara yang sedang menuju pemilihan umum dan hasil produksi kedua negara telah berayun cukup liar dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa yang terjadi di dalam negeri di kedua negara itu bisa memengaruhi arah kebijakan produksi minyak.

Di Nigeria, produsen minyak terbesar di Afrika, perubahan kepemimpinan mengancam untuk mengganggu ketenangan pengaturan pemerintah saat ini, di mana para militan menimbulkan banyak kerusakan pada produksi minyak negara itu di dua tahun lalu.



Sedangkan di Libya, tidak pasti apakah pemilu dimaksudkan untuk menyelesaikan perselisihan jangka panjang antara pemerintah dengan konflik sipil yang sering mengganggu ekspor minyak mentah negara tersebut atau tidak.

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets Helima Croft mengungkapkan situasi di kedua negara dapat memainkan peran besar dalam menentukan harga minyak yang diperdagangkan mendekati empat tahun tertinggi. Sejauh ini, negara anggota OPEC terus berupaya memacu agar harga minyak kembali ke level yang tinggi.

"Yang selalu saya khawatirkan adalah cerita yang harus kami tonton dengan pemasok yang tidak stabil," ungkap Croft.

RBC telah memperingatkan klien bahwa 500.000 barel per hari dapat secara berkala hilang dari kedua negara, dan pemilihan dapat menimbulkan kerusuhan tambahan. Setengah juta bph hanya mewakili setengah persen dari permintaan global harian, tetapi gangguan skala itu akan memiliki dampak besar.

Hal itu lantaran kerugian yang diperkirakan sekitar 1 juta barel per hari minyak mentah akibat pemberian sanksi kepada Iran dalam beberapa bulan mendatang. Ekspor Iran menyusut karena pembeli minyak menghentikan pembelian di bawah ancaman sanksi dari administrasi Trump.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id