Ilustrasi. FOTO: AFP/Julien MIVIELLE
Ilustrasi. FOTO: AFP/Julien MIVIELLE

Harga Minyak Dunia Jatuh

Ekonomi minyak mentah
Antara • 23 Januari 2020 08:14
New York: Harga minyak dunia jatuh lebih dari dua persen pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), tertekan perkiraan surplus pasar oleh Badan Energi Internasional (IEA). Penurunan juga didorong oleh kekhawatiran permintaan di tengah merebaknya virus di Tiongkok melebihi kekhawatiran atas gangguan terhadap produksi minyak mentah Libya.
 
Mengutip Antara, Kamis, 23 Januari 2020, minyak mentah berjangka Brent, mengakhiri sesi dengan turun USD1,38 atau 2,1 persen, menjadi USD63,21 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) merosot USD1,64 atau 2,8 persen menjadi USD56,74 per barel.
 
Ketua IEA Fatih Birol memperkirakan pasar akan mengalami surplus sebesar satu juta barel per hari (bph) pada paruh pertama tahun ini.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Harga minyak tetap tertekan karena kekhawatiran kelebihan pasokan dan setelah Menteri Energi Saudi Harga Abdulaziz tidak menawarkan sedikit pun optimisme bahwa pengurangan produksi OPEC+ akan diperpanjang melampaui Maret," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.
 
"Virus korona Tiongkok kemungkinan akan melihat pembatasan perjalanan yang dapat berakhir merugikan permintaan minyak mentah selama waktu musum perjalanan puncak di Tiongkok," tambahnya,
 
Pasar juga fokus pada kemunculan virus korona baru dari Tiongkok tepat sebelum liburan Tahun Baru Imlek akhir pekan ini dan kemungkinan dampak pandemi terhadap pertumbuhan ekonomi global. Kematian akibat virus mirip flu baru di Tiongkok telah meningkat menjadi 17 dengan lebih dari 540 kasus dikonfirmasi.
 
Jika virus berkembang secara dramatis dan memukul perjalanan serta pertumbuhan, permintaan untuk minyak bisa turun 260 ribu barel per hari, kata Goldman Sachs dalam sebuah catatan.
 
"Kekhawatiran permintaan atas potensi epidemi akan melawan kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Libya, Iran dan Irak, mendorong volatilitas harga spot dalam beberapa minggu mendatang," kata Goldman, meskipun dampak pada fundamental minyak masih terbatas sejauh ini.
 
Harga minyak telah sedikit didukung setelah National Oil Corp (NOA) Libya pada Senin 20 Januari, yang menyatakan force majeure pada pemuatan minyak dari dua ladang minyak utama setelah perkembangan terbaru dalam konflik militer yang sudah berjalan lama.
 
Kecuali fasilitas minyak kembali beroperasi dengan cepat, produksi minyak mentah anggota OPEC Libya akan berkurang menjadi sekitar 72 ribu barel per hari dari sekitar 1,2 juta barel per hari.
 
"Blokade pipa saluran minyak Libya terus berdampak buruk pada sentimen. Ada konsensus bahwa gangguan itu akan terbukti berumur pendek," kata Stephen Brennock dari broker minyak PVM.
 
Sementara itu, Kazakhstan telah menangguhkan ekspor minyaknya ke Tiongkok setelah kontaminasi ditemukan dalam minyak mentah yang dipasok oleh produsen Kazakh kurang dari setahun setelah krisis minyak kotor pecah di negara tetangga Rusia itu.
 
Namun secara keseluruhan, pasokan global kemungkinan akan terus meningkat, dengan produksi minyak mentah AS dalam jumlah deposit besar serpih diperkirakan akan naik ke rekor tertinggi pada Februari, meskipun laju kenaikannya kemungkinan akan menjadi yang terendah dalam sekitar tahun, kata Badan Informasi Energi AS (EIA).
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif