Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

IMF: Tarif AS untuk Tiongkok Sudah Dibayar Importir

Ekonomi imf ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 25 Mei 2019 20:01
New York: Studi dari Dana Moneter Internasional atau International Monetery Fund (IMF) mengungkapkan tarif Amerika Serikat (AS) untuk barang-barang Tiongkok membidik target yang tidak diinginkan ketika perang perdagangan dimulai. Tentu diharapkan perang dagang ini bisa segera terhenti demi kepentingan bersama.
 
Mengutip CNBC, Sabtu, 25 Mei 2019, studi yang dirilis mengatakan bahwa pendapatan tarif yang dikumpulkan dari pungutan untuk barang-barang Tiongkok telah ditanggung hampir seluruhnya oleh importir AS. Adapun Tiongkok dan AS telah terlibat dalam perang dagang selama lebih dari setahun.
 
Saat itu, mereka menargetkan barang bernilai miliaran dolar dengan tarif impor tinggi.
Presiden Donald Trump mengklaim pada 8 Mei bahwa pungutan yang lebih tinggi untuk barang-barang Tiongkok mengisi pundi-pundi AS hingga USD100 miliar per tahun. Tetapi IMF mengatakan defisit perdagangan bilateral antara Tiongkok dan AS tetap secara luas tidak berubah, bahkan dengan diterapkannya tarif.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Trump juga telah menaikkan tarif pada barang-barang Tiongkok sebesar USD300 miliar. Ini, menurut IMF, dapat merugikan konsumen karena perusahaan cenderung meneruskan biaya tambahan kepada para pelanggan. Ujungnya, konsumen harus membayar barang lebih tinggi daripada sebelumnya.
 
IMF mengungkapkan konsumen di AS dan Tiongkok benar-benar merugi akibat ketegangan perdagangan. Tarif yang lebih tinggi juga bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi. Sementara dampak pada pertumbuhan global relatif rendah saat ini di mana eskalasi terbaru dapat secara signifikan mengurangi sentimen bisnis dan pasar keuangan.
 
"Termasuk mengganggu rantai pasokan global, dan membahayakan proyeksi pemulihan pertumbuhan global pada 2019," kata IMF.
 
Kenaikan tarif baru yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan keputusan Beijing untuk melawannya telah menghantam perusahaan-perusahaan AS di Tiongkok. Tentu ada harapan agar kesepakatan dagang di antara kedua negara bisa segera tercapai demi kepentingan bersama.
 
Hampir tiga perempat, atau 74,9 persen dari 250 responden untuk survei yang diadakan dari 16 Mei hingga 20 Mei mengatakan, kenaikan tarif Amerika dan Tiongkok berdampak negatif pada bisnis mereka, menurut laporan yang dirilis oleh American Chamber Perdagangan, di Shanghai dan Kamar Dagang Amerika yang berbasis di Beijing, Tiongkok.
 
"Dampak negatif dari tarif jelas dan merusak daya saing perusahaan-perusahaan Amerika di Tiongkok," kata rilis dari grup tersebut.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif