Ilustrasi (THOMAS SAMSON/AFP)
Ilustrasi (THOMAS SAMSON/AFP)

Survei: Risiko Resesi Ekonomi AS Meningkat

Ekonomi ekonomi amerika
Angga Bratadharma • 18 Mei 2019 20:02
New York: Mayoritas ekonom yang disurvei selama bulan lalu mengungkapkan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah meningkatkan risiko resesi AS. Kini kondisi itu menempatkan risiko resesi bisa terjadi dalam dua tahun ke depan dengan skor 40 persen.
 
Angka itu naik dari median 35 persen dalam jajak pendapat bulan sebelumnya. Penurunan itu merupakan yang pertama kali ketika diadakan sejak Desember tahun lalu, sebelum aksi jual di Wall Street ketika 2018 berakhir, sebagian karena investor khawatir.
 
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menepis perang dagang sedang berlangsung dengan Tiongkok dan menyebutnya hanya sebagai pertengkaran kecil. Akan tetapi ada tanda-tanda jelas dari konflik yang telah berdampak pada ekonomi, dan pasar saham menjadi gelisah lagi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya mengalami kesulitan memikirkan skenario di mana eskalasi lebih lanjut dari ketegangan perdagangan yang kita miliki saat ini tidak akan membuat risiko resesi lebih tinggi," kata Kepala Strategi Makro Global di TD Securities Michael Hanson, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 18 Mei 2019.
 
"Kami sudah berada dalam situasi di mana tingkat tarif yang dikenakan atau terancam akan dikenakan selama beberapa minggu ke depan benar-benar sangat tinggi. Dan pada dasarnya langkah untuk menetapkan tarif 25 persen untuk semua yang kami impor dari Tiongkok adalah hambatan yang sangat nyata dalam perekonomian," kata Hanson.
 
Sementara hanya satu digit persentase responden yang mengatakan resesi AS kemungkinan terjadi di tahun mendatang, lebih dari seperempat ekonom yang disurvei melihat kemungkinan resesi yang lebih besar dari 50 persen dalam dua tahun. Panggilan paling pesimistis untuk kemungkinan resesi dalam satu tahun telah merangkak naik, dari 60 persen menjadi 70 persen.
 
Menurut perkiraan median dari jajak pendapat bulanan terbaru dari 120 ekonom terungkap ekonomi AS diperkirakan telah kehilangan momentum yang cukup besar, melambat menjadi 2,0 persen pada kuartal saat ini dibandingkan dengan sebelumnya. Dampak perang dagang memang sudah terasa pada ekonomi.
 
Bahkan, raksasa ritel seperti Walmart Inc telah memperingatkan kepada pembeli bahwa harga akan naik akibat tarif impor Tiongkok yang lebih tinggi. Hampir 75 persen ekonom, atau 52 dari 70, yang menjawab pertanyaan tambahan tentang apa yang telah dilakukan dari perkembangan perang dagang AS-Tiongkok bulan ini terhadap risiko resesi AS.
 
Sedangkan Tiongkok berusaha menjauhkan ekonominya dari mengekspor barang-barang murah dan lebih ke konsumsi domestik. Tetapi Amerika Serikat, yang sudah merupakan ekonomi yang sangat bergantung pada konsumen, mengimpor barang-barang bernilai ratusan miliar dolar dari Tiongkok, yang dipukul oleh Pemerintahan Trump dengan tarif.
 
"Tampaknya ada kepercayaan di Gedung Putih bahwa perang dagang itu baik dan dapat dimenangkan. Delusi menciptakan risiko besar," kata Kepala Ekonom di Naroff Economic Advisors Joel Naroff, di Holland, Pennsylvania.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif