Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)

2018, Kinerja Pasar Saham Tiongkok Jadi yang Terburuk

Ekonomi ekonomi china tiongkok
Angga Bratadharma • 02 Januari 2019 07:02
Beijing: Di 2018 bukan tahun yang bagus untuk pasar saham Tiongkok, bahkan bisa dikatakan menjadi yang terburuk dalam satu dekade. Pasalnya, Shanghai komposit, rata-rata saham utama daratan, mengakhiri tahun perdagangan di 2.493,90 atau lebih rendah sebanyak 24,6 persen dibandingkan dengan penutupan akhir 2017.

Mengutip CNBC, Rabu, 2 Januari 2019, sebanyak 10 sektor dalam indeks turun secara signifikan pada 2018, dengan teknologi informasi menjadi yang terburuk karena turun 34 persen, menurut perusahaan jasa keuangan China Wind Information. Bahkan sektor dengan kinerja terbaik, utilitas, turun 11 persen.

Itu menempatkan kinerja Shanghai komposit pada posisi terburuk sejak 2008, tahun krisis keuangan global, ketika merosot lebih dari 65 persen. Kerugian dramatis juga terlihat di tempat lain di Tiongkok, dengan Shenzhen komposit anjlok sekitar 33,25 persen dan komponen Shenzhen anjlok sekitar 34,44 persen pada 2018 dibandingkan dengan penutupan terakhir 2017.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Kinerja komponen Shenzhen juga yang terburuk sejak 2008, ketika menyelam 63 persen, menurut Wind Information. Karena saham di daratan terpukul, saham Hong Kong berkinerja lebih baik. Indeks Hang Seng mencatat penurunan hanya 13,61 persen untuk 2018. Perang perdagangan Beijing yang sedang berlangsung dengan Washington mendominasi berita utama hampir sepanjang tahun ini, dengan pasar-pasar Tiongkok terpukul ketika otoritas melakukan serangkaian langkah-langkah, seperti memotong jumlah cadangan yang dimiliki oleh bank, dengan keberhasilan terbatas dalam menenangkan pedagang.

Setelah serangkaian tarif hukuman yang dikenakan atas barang masing-masing, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat untuk mengambil jeda 90 hari dalam peningkatan tarif pada awal Desember.

Melihat ke depan di 2019, seorang investor mengatakan bahwa dua kekuatan ekonomi kemungkinan mencapai kesepakatan perdagangan. Marc Franklin, manajer portofolio senior di Conning Asia Pasifik, mengatakan kemungkinan akan ada tiga aspek dari perjanjian tersebut.

Pertama akan ada pengurangan tarif impor untuk barang AS tertentu. Kedua investor harus mengharapkan janji untuk membeli sejumlah besar produk pertanian dan energi AS. Ketiga kemungkinan ada penangguhan potensial -tetapi bukan pembatalan- pada aspek-aspek tertentu dari Tiongkok untuk menjadi pemimpin dunia dalam manufaktur teknologi tinggi.

"Pasar akan menyukai perkembangan ini, tetapi tidak akan menyelesaikan masalah jangka panjang. Ada kekhawatiran di AS mengenai hal-hal seperti siber, kekayaan intelektual, dan pencurian oleh Tiongkok, dan semakin agresifnya dari perspektif militer di Pasifik," pungkas Franklin.

 


(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi