Ilustrasi (AFP PHOTO/Bryan R. Smith)
Ilustrasi (AFP PHOTO/Bryan R. Smith)

Pasar Saham AS Rontok di Tengah Risalah Fed

Ekonomi wall street
Angga Bratadharma • 23 Mei 2019 07:01
New York: Bursa saham Wall Street rontok atau turun pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena suasana pasar diredam oleh aksi jual tajam pada saham Qualcomm. Selain itu, pasar saham Amerika Serikat (AS) terhempas ke area negatif usai Federal Reserve merilis risalahnya.
 
Mengutip Xinhua, Kamis, 23 Mei 2019, indeks Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 100,72 poin atau 0,39 persen menjadi 25.776,61. Sementara itu, S&P 500 turun sebanyak 8,09 poin atau 0,28 persen menjadi 2.856,27. Indeks Komposit Nasdaq turun 34,88 poin atau 0,45 persen menjadi 7.750,84.
 
Saham Qualcomm anjlok 10,86 persen setelah berita bahwa seorang hakim AS memutuskan perusahaan itu melanggar undang-undang antimonopoli dengan secara tidak sah menekan persaingan di pasar untuk cip ponsel.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


VanEck Vectors Semiconductor ETF (SMH), yang melacak kinerja keseluruhan perusahaan-perusahaan besar yang terdaftar di AS di industri semikonduktor, ditutup 1,76 persen lebih rendah. Dari 11 sektor S&P 500 utama, energi turun 1,58 persen, kelompok dengan kinerja terburuk. Utilitas dan perawatan kesehatan saham yang unggul.
 
Selain itu, Wall Street juga mencerna risalah pertemuan yang baru dirilis dari Federal Reserve AS. Beberapa investor berpikir inflasi AS mungkin jatuh lebih jauh tahun ini dan mengantisipasi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga guna memacu pertumbuhan.
 
"Risalah dari pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) 30 April-1 Mei mengungkapkan bahwa Fed bertekad untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah tahun ini, bahkan jika itu berarti membuat alasan untuk inflasi rendah dan/atau pertumbuhan yang mengecewakan," kata Kepala Ekonom FTN Financial Chris Low, dalam sebuah catatan.
 
"Memang, jika ada, beberapa anggota mempertimbangkan kemungkinan FOMC mungkin harus menaikkan suku bunga tahun ini, tetapi tidak ada yang langsung menyarankan pengurangan, meskipun inflasi lebih rendah dari target," tukas Chris Low.
 
Sebelumnya, beberapa analis mengatakan meningkatnya perang dagang antara AS dan Tiongkok dapat menyebabkan kenaikan suku bunga acuan. Tentu kondisi itu sangat berlawanan dengan apa yang diinginkan Presiden AS Donald Trump kepada Federal Reserve yang meminta untuk segera memangkas suku bunga AS.
 
Konsensus pasar baru-baru ini memberikan saran kepada Federal Reserve bahwa tidak mungkin untuk menaikkan suku bunga, dengan dana berjangka the Fed menunjukkan 76 persen. Kemungkinan bank sentral akan menurunkan suku bunga sebanyak 25 basis poin sebelum September.
 
Trump secara teratur menyatakan ketidaksetujuannya terhadap suku bunga AS yang tinggi dan menyerukan the Fed untuk segera memotongnya. Dalam cuitannya, Trump mengungkapkan, AS akan memenangkan perang perdagangan dengan Tiongkok jika bank sentral AS mengikuti sarannya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif