Perang Dagang AS-Tiongkok Bebani Pasar Saham
Ilustrasi (Spencer Platt/AFP)
New York: Dorongan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang terus-menerus mempermainkan sistem perdagangan dunia memberikan beban tersendiri terhadap pergerakan pasar saham. Namun, tidak ada yang abadi dan di beberapa titik para investor harus bereaksi jika ketegangan sengketa perdagangan terus meningkat.

Menjalankan serangkaian skenario yang berbeda dalam konflik AS-Tiongkok, para ahli di FactSet telah datang dengan skenario perang perdagangan terburuk, di mana sebagian besar ekonomi utama akan terpukul dan AS, bersama dengan beberapa orang lainnya, akan melihat pasar bearish muncul.

"Dalam kasus ketegangan perdagangan yang meningkat antara AS dan Tiongkok, sementara pasar keuangan masih mendiskon dampak global dari perang dagang, analisis kami menunjukkan bahwa jika pasar bereaksi maka efeknya akan meluas," kata Wakil Presiden FactSet Ian Hissey, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 13 September 2018.



Hissey memberikan tiga skenario yakni pertama kasus dasar di mana perselisihan berlanjut di sepanjang jalur dan ketegangan saat ini serta tarifnya secara bertahap meningkat. Kedua, hasil yang optimistis di mana AS dan Tiongkok mencapai kesepakatan luas tentang masa depan tetapi tarif yang baru tetap dikenakan tetap.

Ketiga, kasus konservatif yang melibatkan hubungan memburuk cepat dan dampak yang lebih mendalam. Dalam menentukan dampak, Hissey menggunakan contoh dampak pasar dari keputusan Brexit atau keputusan Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Kondisi itu muncul dengan hasil yang menunjukkan pasar saham global turun antara 8-17 persen dengan pasar di AS, Kanada, dan Israel yang mengalami pukulan paling keras. Sedangkan Jepang menjadi negara pemenang seccara keseluruhan. Hissey tidak memberikan kerangka waktu untuk berapa lama pergerakan pasar akan berlangsung.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id