Presiden Tiongkok Xi Jinping  (FOTO: AFP)
Presiden Tiongkok Xi Jinping (FOTO: AFP)

Tiongkok Perlu Tunda Reformasi untuk Pacu Perekonomian

Ekonomi ekonomi china tiongkok
Angga Bratadharma • 05 Januari 2019 21:02
Beijing: Presiden Tiongkok Xi Jinping memuji reformasi rekonstruktif Tiongkok dalam pidato Tahun Baru. Akan tetapi implementasi perubahan sangat dibutuhkan guna menghindari kemungkinan penurunan ekonomi yang berpotensi menghancurkan di masa mendatang.
 
Mengutip AFP, Sabtu, 5 Januari 2019, jalan ke depan lebih rumit dengan perselisihan perdagangan yang tidak stabil dengan Amerika Serikat yang jika tidak terselesaikan akan menambah beban bagi para pembuat kebijakan di Beijing. Hal itu karena mereka berusaha untuk mendorong ekonomi yang mulai kehabisan tenaga.
 
Beijing selama bertahun-tahun berada di bawah tekanan untuk memperkenalkan reformasi yang sangat dibutuhkan untuk infrastruktur negara itu. Sedangkan perusahaan-perusahaan milik negara bergerak melambat sebagai bagian dari upaya menyelesaikan persoalan utang yang terus membengkak.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kondisi itu sejalan dengan upaya mengubah mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari investasi dan ekspor ke konsumsi domestik. "Ketika pertukaran antara reformasi dan pertumbuhan muncul, kami berharap bahwa prioritas akan lebih sering diberikan untuk mendukung pertumbuhan," kata Gene Fang dari lembaga pemeringkat Moody.
 
Adapun 10 tahun yang lalu Tiongkok melepaskan kekuatan penuh dari gudang keuangannya dengan memperkenalkan langkah-langkah stimulus besar-besaran, yang membantu Beijing mencegah terjadinya kondisi terburuk dari krisis keuangan yang pernah melanda seluruh dunia.
 
Namun, itu membantu menabur benih masalah ekonomi saat ini, dengan utang pada tingkat yang mengkhawatirkan dan reformasi ekonomi yang diperlukan tidak ditangani karena para pemimpin fokus pada mempertahankan pertumbuhan dan lapangan kerja yang stabil.
 
Sekarang, dengan gagap ekonomi global, perlambatan di pasar ekspor utama mengurangi sumber pendapatan penting. Sementara negara ini sedang berjuang dengan sejumlah besar masalah struktural seperti populasi yang menua dan sekarang menyusut, kumpulan populasi yang semakin menipis, pekerja pedesaan, kelebihan kapasitas, dan polusi udara.
 
Dan kemudian ada perang dagang dengan Amerika Serikat. "Ekonomi Tiongkok sedang berjuang. Kekacauan utang belum terselesaikan dan dampak dari tarif AS baru saja dimulai," kata Bill Bishop, seorang ahli di Tiongkok seraya menambahkan bahwa Partai Komunis akan melakukan segala cara untuk memperbaiki perekonomian dengan berbagai bentuk rangsangan.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi