Ilustrasi. FOTO: RBS
Ilustrasi. FOTO: RBS

2020, Para CEO Masih Sebut Resesi Risiko Bisnis Terbesar

Ekonomi ekonomi dunia ekonomi global
Angga Bratadharma • 04 Januari 2020 15:05
New York: Para pemimpin perusahaan di seluruh dunia tampaknya belum mendapatkan memo bahwa resesi tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Padahal, sejumlah risiko mulai mereda seperti disepakatinya kesepakatan dagang fase satu antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok hingga aktivitas perdagangan dunia yang mula membaik.
 
Hingga saat ini, para CEO masih menganggap akhir dari ekspansi yang merupakan yang terpanjang dalam sejarah AS dan telah menyebar ke seluruh dunia menjadi ketakutan terbesar pada 2020. Hal itu terungkap dalam survei CEO Challenge Board Conference. Ini adalah tahun kedua berturut-turut untuk para CEO melihat masih ada potensi resesi.
 
"Hanya dua tahun yang lalu, resesi global hampir tidak ada di benak para CEO dalam survei kami. Satu risiko nyata dari pola pikir resesi ini adalah ia dapat menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya," kata penulis survei dalam sebuah ringkasan, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 4 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketakutan resesi datang di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut di sekitar perdagangan global, meningkatnya persaingan, ketidakstabilan politik global, dan pengetatan pasar tenaga kerja, yang dinilai dapat menjadi pengekang signifikan terhadap pertumbuhan bisnis.
 
Kekhawatiran itu tetap ada pada 2019 ketika AS dan Tiongkok melanjutkan perang dagang termasuk adanya masalah geopolitik seperti Brexit dan katalis negatif di Washington berkontribusi pada iklim yang tidak stabil. Kekhawatiran resesi memuncak pada akhir musim panas karena pasar obligasi mengirim sinyal kuat bahwa resesi sedang berlangsung dalam 12 bulan ke depan.
 
Namun, pemotongan suku bunga acuan oleh Federal Reserve, pasar tenaga kerja yang kuat, dan aktivitas konsumen yang membaik telah membantu mengatasi kekhawatiran itu. Kesemuanya seharusnya bisa menjadi sentimen positif bagi para CEO untuk melihat perekonomian dunia akan lebih cerah di masa mendatang.
 
"Kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang risiko resesi di antara para pemimpin bisnis mencerminkan ekonomi yang melambat tahun lalu dan ketidakpastian tentang hasil dari perselisihan perdagangan dan masalah kebijakan lainnya," kata Kepala Ekonom The Conference Board Bart van Ark, dalam sebuah pernyataan.
 
"Namun, mengingat prospek yang sedikit lebih baik untuk ekonomi global dan meredanya ketegangan perdagangan, kami mengantisipasi bahwa ledakan sentimen negatif -yang dapat terjadi- dapat dihindari, dan bahwa kita akan melihat lebih percaya diri tentang prospek bisnis pada 2020," kata Ark.
 
Responden dari semua wilayah utama kecuali Jepang dan Amerika Latin menilai potensi resesi sebagai risiko utama, alih-alih menempatkannya di urutan kedua. Sedangkan para ekonom telah memperingatkan tentang kemungkinan adanya perlambatan, khususnya di AS di mana stimulus fiskal dari tagihan pajak 2017 diperkirakan akan hilang.
 
Namun, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan PDB AS tumbuh pada tingkat 1,9 persen pada 2020, dan pertumbuhan global diyakini mencapai 3,5 persen. Tentu hal-hal itu diharapkan bisa terwujud sejalan membaiknya perekonomian dunia, termasuk hilangnya beberapa risiko besar.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif