Ekonom DBS Sebut Volatilitas di Asia Meningkat Signifikan
Ilustrasi (FOTO: RBS)
Jakarta: Sepekan terakhir volatilitas di negara Asia telah meningkat secara signifikan dengan sejumlah katalis risk-off yang bermunculan untuk memperbesar skala koreksi. Hal ini khususnya berlaku di Indonesia dan India di mana rupee melemah melewati 69 per USD ke rekor terendah dan rupiah Indonesia turun dengan cepat melewati angka Rp14.300 per USD.

Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan katalis risk-off belakangan ini mencakup adanya hal yang tidak dapat disangkal bahwa kekuatan USD yang terus meluas, karena nilai tukarnya terus melebar dengan negara-negara G3 lainnya. Selain itu, dikarenakan adanya kekhawatiran setelah pengaruh buruk dari yuan Tiongkok yang melemah.

Termasuk, lanjutnya, akibat kekhawatiran yang berkepanjangan atas perseteruan perdagangan antara AS-Tiongkok yang membuat para investor bimbang dan bisa membahayakan pertumbuhan ekonomi global. Tentu diharapkan Presiden AS Donald Trump bisa mengkaji kembali aturan pengenaan tarif impor yang tinggi.



"Sementara gerakan yang tajam dalam mata uang negara-negara Asia hadir sebagai kejutan, di mana arahnya mengikuti harapan kami," kata Radhika Rao, seperti dikutip dari riset DBS Group Research, Sabtu, 7 Juli 2018.

Menurutnya Indonesia dan India menghadapi terpaan angin yang sama di saat risk appetite lemah. Investor jelas sensitif terhadap ekonomi yang menghadapi defisit kembar, yang menggarisbawahi perlunya dukungan pembiayaan yang memadai. Sementara Foreign Direct Investment (FDI) adalah sumber dukungan yang lebih baik.

"Aliran portofolio datang dengan cepat dan tebal tahun lalu, memperoleh keuntungan dari bank-bank sentral global yang akomodatif dan didorong oleh kepentingan perdagangan. Hasilnya, mata uang dihargai, meskipun pihak berwenang mengintervensi untuk memperlambat laju kenaikan," tukasnya.

Namun, lanjutnya, para pembuat kebijakan sekarang menghadapi kekhawatiran atas impossible trinity klasik yang merupakan inti dari pengaruh arah kebijakan moneter pada mata uang masing-masing, dan aliran portofolio/modal.

"Arus modal tahun lalu yang kuat, sampai batasan tertentu, memperburuk ketidakseimbangan eksternal tahun ini, dengan menciptakan kepuasan atas risiko pembiayaan dan kehadiran tekanan yang lebih dominan terhadap aliran portofolio, terutama mengingat konsentrasi asing yang lebih besar di pasar utang Indonesia," pungkasnya.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id