AS Siapkan Tarif Tambahan Senilai USD200 Miliar ke Tiongkok
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Washington: Amerika Serikat (AS) telah meningkatkan perang dagang dengan Tiongkok. AS mengancam segera memberlakukan tarif baru untuk barang-barang Tiongkok senilai USD200 miliar paling cepat pada September, dan hal ini memicu kemarahan di Beijing.

Melansir dari AFP, Rabu, 11 Juli 2018, ancaman terbaru dalam konflik perdagangan antara dua negara dengan ekonomi teratas di dunia terjadi hanya beberapa hari setelah tarif "saling balas" sebesar USD34 miliar mulai berlaku.

Para analis telah memperingatkan bahwa ketegangan perdagangan yang terus meningkat di antara dua negara ini bisa merusak ekonomi global dan berdampak luas akan memiliki jangkauan jauh di seluruh dunia.

Perwakilan Perdagangan AS (USTR) Robert Lighthizer pada Selasa malam, menuduh Tiongkok telah membalas tarif AS "tanpa dasar hukum atau pembenaran lainnya."

"Presiden Donald Trump telah memerintahkan Departemen Perdagangan untuk memulai proses pengenaan tarif 10 persen pada impor Tiongkok sebesar USD200 miliar," kata Lighthizer dalam sebuah pernyataan.

Pejabat AS akan mengadakan dengar pendapat pada akhir Agustus pada daftar produk yang ditargetkan. Seorang pejabat pemerintah mengatakan proses itu akan memakan waktu penyelesaian sekitar dua bulan, di mana Trump akan memutuskan apakah akan melanjutkan tarif atau tidak.

Adapun tujuan akhir adalah untuk memberlakukan tarif 40 persen terhadap impor Tiongkok, dengan proporsi yang sama dari barang-barang AS yang terkena pembalasan Beijing, ujar seorang pejabat mengatakan kepada wartawan.

Jika tindakan itu diberlakukan, itu berarti pajak baru untuk ribuan produk seperti ikan, bahan kimia, logam, dan ban.

Menanggapi pengumuman Washington, seorang pejabat perdagangan senior di Beijing menuduh AS telah merusak tatanan ekonomi dunia dan mengatakan tarif saling balas ini akan menghancurkan perdagangan antara kedua negara.

"Ledakan skala besar yang timbul karena tarif antara Tiongkok dan AS akan menghancurkan perdagangan Tiongkok-AS," kata Asisten Menteri Perdagangan Tongkok Li Chenggang dalam sebuah forum di Beijing.

"Kebijakan AS benar-benar mengganggu proses globalisasi ekonomi dan merusak tatanan ekonomi dunia," tegas Li.

Sengketa ini muncul di tengah konfrontasi Washington dengan sekutu lain dan mitra dagang utama termasuk Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa, setelah menerapkan tarif yang tajam pada baja dan aluminium mereka. Negara-negara itu juga telah membalas.

"Ini adalah waktu yang kacau dalam perdagangan internasional," kata Li.

Konfrontasi perdagangan antara Washington dan Beijing telah meningkat selama berbulan-bulan, meskipun Trump mengulangi pernyataan bahwa ia memiliki hubungan baik dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Tiongkok menuduh AS telah memulai perang perdagangan terbesar dalam sejarah ekonomi, setelah putaran tarif pertama diberlakukan pekan lalu.

Tetapi Trump telah mengatakan secara terus-menerus bahwa Tiongkok telah mengambil keuntungan dari ekonomi AS, dan dia telah bersumpah untuk memukul hampir semua produk negara dengan tarif sebanyak USD450 miliar.

Defisit perdagangan barang AS dengan Tiongkok menggelembung hingga mencapai rekor menjadi USD375,2 miliar pada tahun lalu. Hal inilah yang memicu kemarahan Trump.

Untuk saat ini, AS terus bekerja menyelesaikan tarif tambahan sebesar USD16 miliar dalam bentuk barang untuk menghadapi tarif 25 persen dengan total hingga USD50 miliar. Beijing pun berjanji akan membalasnya.

Daftar barang baru untuk menghadapi "hukuman tarif" 10 persen termasuk daging beku, ikan segar dan makanan laut, mentega, bawang, bawang putih dan sayuran lainnya, buah-buahan, kacang-kacangan, logam, bahan kimia, ban, kulit, kain, kayu, dan kertas.

Para pejabat mengatakan mereka mencoba menargetkan barang-barang yang akan mengurangi bahaya bagi konsumen AS. Namun demikian, para pejabat AS tetap terbuka untuk bekerja dengan Tiongkok untuk mencoba menyelesaikan perselisihan itu, tetapi tanggapan dari Beijing sejauh ini tidak memuaskan.

"Selama lebih dari setahun, Administrasi Trump dengan sabar mendesak Tiongkok untuk menghentikan praktik tidak adil, membuka pasarnya, dan terlibat dalam persaingan pasar sejati," kata Lighthizer.

"Sayangnya, Tiongkok tidak mengubah perilakunya. Amerika Serikat bersedia terlibat dalam upaya yang dapat mengarah pada penyelesaian masalah kami," pungkasnya.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id