Gedung The Fed (FOTO: AFP)
Gedung The Fed (FOTO: AFP)

Fed Sebut Ekspansi Ekonomi AS Bakal Terus Terjadi

Ekonomi ekonomi amerika the fed
Angga Bratadharma • 13 April 2019 15:01
New York: Wakil Ketua Federal Reserve Richard Clarida mengungkapkan ekonomi Amerika Serikat (AS) saat ini ada kecenderungan melambat dari tingkat pertumbuhan yang kuat pada 2018. Kondisi tersebut dikarenakan adanya risiko internasional yang mengaburkan prospek pertumbuhan ekonomi Paman Sam.
 
Namun Clarida mengatakan, 10 tahun setelah AS muncul dari resesi yang membahayakan, ekspansi ekonomi saat ini hampir pasti akan menjadi yang terpanjang dalam catatan. Hal tersebut bukan tidak mungkin bisa menjamin kemampuan ekonomi untuk terus tumbuh.
 
"Data yang masuk telah mengungkapkan bahwa ada tanda-tanda pertumbuhan ekonomi AS agak melambat dari laju kuat 2018. Prospek pertumbuhan ekonomi asing telah turun, dan risiko internasional yang penting, seperti Brexit, tetap ada," kata Clarida, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 13 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ditambah dengan inflasi yang diredam, Clarida mengatakan, pandangan tersebut membenarkan sikap kebijakan the Fed saat ini, dengan suku bunga yang kira-kira pada tingkat yang tidak mendorong atau menghambat investasi dan pengeluaran. Adapun the Fed siap menggunakan pendekatan sabar untuk setiap pergerakan suku bunga lebih lanjut.
 
The Fed telah menahan pergerakan suku bunga lebih lanjut karena the Fed mencoba untuk menilai sejauh mana pertumbuhan ekonomi akan melambat, dan seberapa besar ekonomi luar negeri berjalan dalam beberapa bulan mendatang. Dalam konteks ini, the Fed terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi AS.
 
Sementara itu, Amerika Serikat dinilai berpotensi mengalami resesi pada dua tahun mendatang. Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia Anton Hendranata menilai sinyal resesi sudah mulai terlihat dari imbal hasil pasar obligasi.
 
"Cara melihatnya sederhana, dilihat dari spread imbal hasil US treasury 10 tahun terhadap yang dua tahun. Kalau tren spread-nya mengecil dan menuju negatif, maka dua tahun kemudian biasanya AS akan resesi," jelas Anton.
 
Anton memaparkan pada kondisi perekonomian yang normal, surat utang dengan tenor lebih panjang seharusnya memberikan imbal hasil lebih tinggi. Namun, hal sebaliknya terjadi jika ada potensi resesi. "Nah, ini kenapa surat utang dengan tenor pendek imbal hasilnya lebih tinggi dibandingkan tenor panjang," terangnya.
 
Kekhawatiran akan terjadinya resesi, lanjut Anton, sangat masuk akal melihat defisit fiskal AS yang makin membengkak akibat Presiden Donald Trump sangat agresif melonggarkan kebijakan fiskalnya lewat pemotongan pajak. "Ruang fiskal AS sudah sangat terbatas. Kalau benar terjadi resesi, siap-siap market akan terkoreksi," pungkasnya.
 

(ABD)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif