Minyak Brent Menguat di Tengah Ancaman Iran
Ilustrasi (FOTO: AFP)
Calgary: Minyak mentah Brent menguat pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Penguatan terjadi didorong oleh ancaman dari seorang komandan Iran dan penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) untuk minggu kedua berturut-turut.

Mengutip Antara, Kamis, 5 Juli 2018, harga Brent naik di atas USD78 per barel setelah komandan Pengawal Revolusi Iran mengatakan dia siap untuk mencegah ekspor minyak mentah regional jika penjualan minyak Iran dilarang oleh Amerika Serikat.

Kontrak berjangka Brent yang paling aktif untuk pengiriman September, ditutup naik 48 sen AS menjadi USD78,24 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 19 sen AS menjadi USD74,33 per barel, mendekati posisi tertinggi tiga setengan tahun  pada Selasa waktu setempat di atas USD75 per barel.

Pasar AS tidak akan memiliki harga penyelesaian karena liburan Hari Kemerdekaan AS. Presiden Iran Hassan Rouhani pada Selasa mengancam untuk mengganggu pengiriman minyak dari negara-negara tetangga jika Washington terus menekan semua negara untuk berhenti membeli minyak Iran.



Semakin dekatnya sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah Iran, force majeure di Libya dan penutupan pipa yang tidak direncanakan di Nigeria telah mempersuram prospek pasokan, meskipun produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkat.

"Di dunia yang ideal, peningkatan produksi minyak global atau regional akan memiliki tekanan turun pada harga. Namun, ini tidak ada waktu normal karena penghentian pasokan hampir terjadi setiap minggu," kata Ahli Strategi PVM Oil Associates Tamas Varga.

Stok minyak mentah di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma, turun 2,6 juta barel, kata API. Stok minyak mentah di fasilitas penyimpanan minyak di Cushing telah jatuh setelah terjadi penutupan di fasilitas ladang minyak Syncrude Kanada di dekat Fort McMurray, Alberta, sebanyak 360 ribj barel per hari.

 



(ABD)