Dolar AS Kembali Bangkit
Ilustrasi (AFP PHOTO/ATTA KENARE)
New York: Dolar Amerika Serikat (USD) memangkas kerugian pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Kondisi itu terjadi karena investor secara luas mengharapkan Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pada Desember, menyusul penurunan tajam dolar pada Selasa lalu.

Mengutip Xinhua, Kamis, 6 Desember 2018, pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1340 dibandingkan dengan USD1,1341 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2736 dari USD1,2717 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia jatuh ke USD0,7264 dibandingkan dengan USD0,7337.

Sementara itu, USD membeli 113,19 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 112,81 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD naik menjadi 0,9978 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9974 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3384 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3247 dolar Kanada.

Ekspektasi tetap tinggi untuk bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan berikutnya yang dijadwalkan pada 18-19 Desember untuk menopang mata uang safe-haven. Mata uang paling likuid di dunia menanggung tekanan ke bawah setelah imbal hasil obligasi Pemerintah AS dua tahun dan tiga tahun melampaui hasil lima tahun untuk hari kedua.

Inversi kurva imbal hasil yang jarang terlihat biasanya dipandang sebagai pendahuluan kemerosotan ekonomi, yang memicu kekhawatiran luas akan perlambatan pertumbuhan ekonomi AS. Kondisi ini akhirnya memicu sentimen negatif dan memberikan dampak buruk terhadap aktivitas perekonomian AS.

Aksi jual luas baru-baru ini di pasar saham dan ketidakpastian terus-menerus atas ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah meningkatkan tuntutan untuk greenback menghindari dari aset berisiko, mengupas beberapa kerugian yang disebabkan oleh kurva imbal balik terbalik.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id