Ilustrasi (AFP/YE AUNG THU)
Ilustrasi (AFP/YE AUNG THU)

Daripada Suku Bunga Rendah

Perang Dagang Jadi Tantangan Terbesar

Ekonomi as-tiongkok world economic forum Perang dagang
Angga Bratadharma • 28 Januari 2019 13:02
Davos: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok adalah kekhawatiran terbesar bagi salah satu bank besar Italia dan bukan lingkungan suku bunga rendah saat ini di zona euro. Perang dagang yang sedang terjadi harus dihentikan secepat mungkin agar efek buruknya tidak merembet ke negara lain di dunia.
 
Ketika ditanya tentang lingkungan suku bunga rendah di kawasan itu, CEO Intesa Sanpaolo Carlo Messina mengharapkan bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) untuk mengembalikan suku bunga simpanannya kembali ke nol. Tentu langkah itu dengan melihat situasi dan kondisi terkini dari ekonomi dunia dan Eropa.
 
"Harapan saya adalah mereka akan meningkatkannya dari -0,40 (persen) menjadi nol, tingkat suku bunga, tetapi tidak akan melebihi nol. Jadi kita akan tetap berada dalam lingkungan dengan suku bunga rendah," kata Messina, di Forum Ekonomi Dunia, di Davos, seperti dikutip dari CNBC, Senin, 28 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, lanjutnya, kekhawatiran yang lebih besar dibandingkan dengan suku bunga rendah adalah adanya perlambatan ekonomi global akibat sejumlah risiko. Salah satunya adalah perang dagang yang masih terus terjadi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.
 
"Saya khawatir tentang situasi internasional atau perlambatan internasional. Jadi apa yang saya anggap strategis sebenarnya adalah kemungkinan untuk membuat kesepakatan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Penting agar perang dagang tidak menjadi masalah," ungkap Messina.
 
Perang dagang telah disebut oleh banyak orang selama Forum Ekonomi Dunia sebagai salah satu tantangan terbesar bagi pertumbuhan ekonomi global. Trump telah berselisih dengan Tiongkok atas perdagangan sejak kampanye di 2016. Sejak awal masa kepresidenannya, AS telah menetapkan tarif USD250 miliar untuk barang-barang Tiongkok.
 
Sedangkan Beijing telah merespons dengan tarif barang-barang AS senilai USD110 miliar. Aksi balas pengenaan tarif yang tinggi ini akhirnya disebut sebagai perang dagang. Perang dagang ini ujungnya memberikan efek negatif terhadap kedua belah pihak, yakni ekonomi Tiongkok melambat dan bursa saham AS ambruk.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif