Pasar Saham Asia Rapuh
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Tokyo: Pasar saham Asia berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa waktu setempat, setelah Wall Street berakhir melemah. Pasar saham terpukul kekhawatiran baru tentang perang dagang AS-Tiongkok dan berada di jalur penurunan Oktober terbesar sejak krisis keuangan 2008.

Indeks MSCI, ukuran terluas dari saham-saham Asia Pasifik di luar Jepang, meluncur 0,1 persen, menyusul kemerosotan di pasar saham AS. Demikian seperti dikutip dari Antara, Selasa, 30 Oktober 2018. Indeks telah jatuh lebih dari 12 persen sepanjang bulan ini. Indeks acuan Nikkei Jepang naik 0,9 persen dan indeks acuan Australia turun 0,2 persen pada perdagangan pagi hari.

Indeks-indeks utama AS turun tajam dalam perdagangan volatil, setelah Bloomberg melaporkan bahwa Amerika Serikat sedang bersiap untuk mengumumkan tarif pada semua impor Tiongkok yang tersisa pada awal Desember, jika perundingan bulan depan antara presiden Donald Trump dan Xi Jinping tidak membuahkan hasil.

Indeks volatilitas CBOE Global Markets, yang dikenal sebagai "pengukur rasa takut" Wall Street, melompat 27,86 poin, tertinggi sejak 11 Oktober dan tertinggi kedua sejak guncangan volatilitas di awal Februari.

"Kemungkinan saham-saham global beralih ke pasar 'bearish' meningkat," kata Masanari Takada, analis lintas aset di Nomura Securities.

"Sementara beberapa investor yang melihat fundamental membeli saham ketika turun, ada pemain lain yang terus menjual secara otomatis dalam menanggapi volatilitas tinggi. Para pembeli akan kewalahan jika kami memiliki berita negatif tentang tarif pada saat seperti ini."

Indeks saham utama Tiongkok turun tajam pada Senin, 29 Oktober 2018, karena laporan laba dari perusahaan-perusahaan industri dan konsumen meningkatkan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi dan dampak dari dukungan kebijakan sejauh ini.

Indeks Komposit Shanghai melemah 2,2 persen menjadi berakhir di 2.542 poin, jauh di bawah level penting 2.600 poin, sementara indeks CSI300 saham-saham unggulan atau "blue-chip" ditutup 3,0 persen lebih rendah.

Yuan Tiongkok ditutup pada yang terlemah dalam lebih dari satu dekade pada Senin, kehilangan 0,16 persen menjadi mengakhiri sesi domestik di 6,9560 per dolar AS, menimbulkan spekulasi mengenai apakah bank sentral akan menolerir penurunan di luar level kunci 7,0 per dolar AS.

Sebelum pasar spot dibuka, yuan di luar negeri sedikit berubah pada 6,9730 setelah jatuh pada Jumat, ke level terendah 6,9760 terhadap dolar AS, terlemah sejak Januari 2017.

Indeks dolar AS naik dan tepat di bawah tertinggi 10-minggu yang tercapai pada Jumat. Indeks menguat karena penurunan euro setelah berita Kanselir Jerman Angela Merkel tidak akan meminta pemilihan umum kembali sebagai ketua partai CDU-nya.

Merkel mengatakan dia tidak akan meminta pemilihan kembali sebagai ketua partai, mengakhiri dari era 13-tahun di mana dia mendominasi politik Eropa.

Harga minyak beringsut lebih rendah semalam setelah Rusia mengisyaratkan bahwa produksi akan tetap tinggi dan karena kekhawatiran atas ekonomi global memicu kecemasan tentang permintaan minyak mentah.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate dan Brent terakhir masing-masing diperdagangkan pada USD66,81 dan USD76,77 per barel.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id