Ilustrasi (AFP PHOTO/Andrew CABALLERO-REYNOLDS)
Ilustrasi (AFP PHOTO/Andrew CABALLERO-REYNOLDS)

IMF Naikkan Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok di 2019

Ekonomi imf ekonomi china tiongkok ekonomi dunia ekonomi global
Angga Bratadharma • 13 April 2019 11:02
Washington: Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) meningkatkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok di 2019. Hal itu mengutip upaya Beijing yang mendukung laju ekonomi dan meningkatkan prospek kesepakatan atas pertarungan tarif dengan Amerika Serikat (AS).
 
IMF mengatakan dalam laporan World Economic Outlook (WEO) terbaru bahwa Tiongkok diproyeksikan tumbuh sebesar 6,3 persen di tahun ini atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 6,2 persen. Laporan terbaru dibaca secara luas secara global untuk penilaian IMF terhadap ekonomi dunia.
 
Mengutip CNBC, Sabtu, 13 April 2019, ekonomi Tiongkok, yang terbesar kedua di dunia, tumbuh sebesar 6,6 persen di tahun lalu yang merupakan kinerja terburuknya dalam 28 tahun. Tentu kondisi tersebut diharapkan bisa membaik di masa mendatang dan pertumbuhannya bisa lebih tinggi lagi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tiongkok telah meningkatkan stimulus fiskal dan moneternya untuk melawan dampak negatif dari tarif perdagangan. Selain itu, prospek ketegangan perdagangan AS-Tiongkok telah meningkat ketika prospek perjanjian perdagangan mulai terbentuk," kata Penasihat Ekonomi IMF Gita Gopinath, dalam laporan tersebut.
 
Namun, Bank Dunia menurunkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok untuk 2020 menjadi 6,1 persen dari proyeksi sebelumnya sebesar 6,2 persen.
 
"Sementara prospek keseluruhan tetap jinak, ada banyak risiko penurunan. Ada gencatan senjata yang tidak mudah pada kebijakan perdagangan, karena ketegangan dapat memanas lagi dan terjadi di daerah lain (seperti industri mobil) dengan gangguan besar pada rantai pasokan global. Pertumbuhan di Tiongkok mungkin mengejutkan pada sisi negatifnya," kata Gopinath.
 
Tiongkok dan AS telah terlibat perang dagang sejak tahun lalu. Namun, dua ekonomi terbesar dunia ini sudah menahan kenaikan tarif lebih lanjut saat mereka menegosiasikan kesepakatan perdagangan. Secara terpisah, AS menegosiasikan kembali kesepakatan perdagangan dengan tetangganya di Amerika Utara, Kanada dan Meksiko, dan sekutu Asia, Korea Selatan.
 
Washington juga berusaha menilai kembali hubungan perdagangannya dengan Uni Eropa dan Jepang. Adapun IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan global tiga kali sejak Oktober lalu dan sebagian besar dilakukan karena adanya ketegangan antara AS dan mitra dagangnya.
 
Sementara itu, perkiraan Bank Dunia sedikit lebih optimistis untuk Tiongkok di tahun ini karena beberapa ekonom juga telah optimistis pada prospek pertumbuhan raksasa ekonomi Asia. HSBC mengatakan pertumbuhan Tiongkok bisa mencapai 6,6 persen tahun ini atau lebih tinggi dari perkiraan Pemerintah Tiongkok antara 6,0 persen dan 6,5 persen.
 
Citi mengatakan mungkin ada risiko terbalik dengan perkiraan pertumbuhan 6,2 persen di Tiongkok pada tahun ini. Kepala Analisis Ekonomi dan Pasar Asia Citi Johanna Chua mengatakan dalam jangka pendek pihaknya melihat ada alasan untuk optimis karena semua pelonggaran kebijakan yang dilakukan mulai memberikan dampak.
 
"Jadi kami mengharapkan stabilisasi dan kembali adanya kenaikan dalam beberapa kuartal berikutnya," kata Johanna Chua, kepada "Street Signs" CNBC.
 
Otoritas Tiongkok telah menerapkan langkah-langkah moneter dan fiskal untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi, termasuk pemotongan pajak dan mengurangi jumlah cadangan yang harus dimiliki bank. Namun dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi akan melambat karena perubahan demografi dan potensi produktivitas.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif