Ilustrasi (MI/SUSANTO)
Ilustrasi (MI/SUSANTO)

Dolar AS Melesat di Tengah Rilis Data Ekonomi

Ekonomi dolar as
Angga Bratadharma • 22 Mei 2019 09:33
New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) menguat atau melesat pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB), karena investor mencerna data ekonomi terbaru serta komentar dari pejabat bank sentral. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,13 persen pada 98,0631 pada akhir perdagangan.
 
Mengutip Xinhua, Rabu, 22 Mei 2019, pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1157 dibandingkan dengan USD1,1168 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2705 dibandingkan dengan USD1,2726 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,6881 dibandingkan dengan USD0,6905.
 
Sementara itu, dolar AS dibeli 110,62 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 109,97 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian dolar AS naik ke 1,0113 franc Swiss dibandingkan dengan 1,0083 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3404 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3431 dolar Kanada.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 197,43 poin atau 0,77 persen menjadi 25.877,33. Sedangkan S&P 500 meningkat sebanyak 24,13 poin atau 0,85 persen menjadi 2.864,36. Indeks Nasdaq Composite naik 83,35 poin atau 1,08 persen menjadi 7.785,72.
 
Sebanyak 10 dari 11 sektor S&P 500 utama ditutup lebih tinggi, dengan layanan teknologi dan komunikasi masing-masing naik sebanyak 1,20 persen dan 0,96 persen, di antara kelompok-kelompok dengan kinerja terbaik. Namun, kebutuhan pokok konsumen turun sebanyak 0,31 persen.
 
Saham terkait teknologi dipicu oleh berita bahwa Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) mengeluarkan lisensi sementara 90 hari melonggarkan pembatasan pada kesepakatan bisnis dengan raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei. Kondisi ini akhirnya memberikan tekanan terhadap gerak saham teknologi di pasar saham AS.
 
Di sisi ekonomi, National Association of Realtors mengatakan, penjualan rumah yang ada di AS menurun untuk bulan kedua berturut-turut pada April, atau pada kecepatan yang jauh lebih lambat. AS berharap kondisi ini bisa mengalami perbaikan di masa-masa yang akan datang.
 
Total penjualan rumah yang ada, transaksi yang diselesaikan dan mencakup rumah keluarga tunggal, townhome, kondominium, dan koperasi, turun sebanyak 0,4 persen dari Maret ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 5,19 juta pada April.
 
Sebelumnya, analis di Kamboja mengatakan kebijakan proteksionisme AS telah merusak aturan dan norma perdagangan internasional. Ekonomi dunia, Ketua Institut Pengembangan Sumber Daya Kamboja Mey Kalyan mengatakan, terutama di Kamboja, akan menderita karena 'serangan' perdagangan Washington terhadap Tiongkok dan negara-negara lain untuk waktu yang lama.
 
"Bahkan lebih disesalkan bahwa aturan perdagangan internasional dan norma-norma yang telah dibangun banyak negara selama beberapa dekade telah hancur dalam semalam oleh negara Adidaya yang memberi pelajaran kepada negara-negara miskin tentang demokrasi dan hak asasi manusia," katanya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif