Ekonomi Tiongkok Tumbuh 6,8% di Kuartal I-2018
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)
Beijing: Kinerja perekonomian Tiongkok di awal tahun ini tumbuh 6,8 persen pada kuartal pertama di 2018. Pertumbuhan ini dapat terjadi meski Amerika Serikat (AS) beberapa waktu sebelumnya memutuskan untuk mengenakan tarif impor yang tinggi terhadap Tiongkok.

Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok mencapai 19,88 triliun yuan (sekitar USD3,2 triliun) dalam tiga bulan pertama di 2018 atau naik sebanyak 6,8 persen secara tahun ke tahun dengan harga yang sebanding, tidak berubah dari tingkat pertumbuhan pada kuartal sebelumnya, menurut Biro Statistik Nasional (NBS).

"Perekonomian dimulai dengan awal yang baik," kata Juru Bicara NBS Xing Zhihong, dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip dari Xinhua, Selasa, 17 April 2018, seraya mencatat momentum dalam pembangunan, kemajuan yang mantap dalam peningkatan, dan peningkatan kualitas serta efisiensi ekonomi.

Tingkat pertumbuhan PDB berada di kisaran 6,7 persen hingga 6,9 persen selama 11 kuartal, dengan tingkat pengangguran dan inflasi tetap stabil. Perdagangan luar negeri negara itu menjadi lebih seimbang sejak awal tahun ini, dengan pertumbuhan impor melampaui ekspor dan surplus perdagangan menyempit, menurut Xing.



"Perekonomian Tiongkok meningkat 6,9 persen pada 2017, mengambil kecepatan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun," tukasnya.

Di sisi lain, Tiongkok menambah kepemilikannya atas surat utang Pemerintah AS pada Februari, setelah jatuh ke level terendah enam bulan pada Januari. Tiongkok menaikkan kepemilikan surat utang Pemerintah AS sebesar USD8,5 miliar menjadi USD1,1767 triliun pada Februari.

Tiongkok tetap menjadi pemegang obligasi Pemerintah AS terbesar. Jepang, pemegang surat utang (obligasi) Pemerintah AS terbesar kedua, memangkas kepemilikannya sebesar USD6,3 miliar menjadi USD1,0595 triliun dalam sebulan.

Pada akhir Februari, keseluruhan kepemilikan asing atas surat utang Pemerintah AS naik menjadi USD6,2916 triliun. Ketika Presiden AS Donald Trump mengambil sikap keras terhadap perdagangan Tiongkok, para investor terus mengawasi kepemilikan Tiongkok atas surat utang AS.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id