Ekonomi AS Kuat

Ketua Fed Powell Siap Naikkan Kembali Suku Bunga

Angga Bratadharma 21 Juni 2018 12:03 WIB
ekonomi amerikathe fed
Ketua Fed Powell Siap Naikkan Kembali Suku Bunga
Ketua Federal Reserve Jerome Powell (FOTO: AFP)
New York: Ketua Federal Reserve Jerome Powell menekankan komitmen bank sentral untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut di masa mendatang. Keputusan tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kuat dan rendahnya tingkat pengangguran sekarang ini.

"Sebelumnya dalam ekspansi, karena ekonomi pulih, kebutuhan untuk kebijakan moneter yang sangat akomodatif sangat jelas," kata Powell, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 21 Juni 2018.

"Tetapi dengan tingkat pengangguran yang rendah dan diperkirakan terus turun dan di sisi lain tingkat inflasi mendekati tujuan kami, serta risiko terhadap prospek kurang seimbang maka kasus untuk kenaikan bertahap dalam tingkat dana federal adalah kuat," tegas Powell.



Pernyataannya datang seminggu setelah Federal Open Market Committee memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebanyak 0,25 persentase poin. Itu adalah kenaikan keenam sejak Fed mulai menormalkan kebijakan pada Desember 2015 setelah tujuh tahun mempertahankan target suku bunga acuannya berlabuh mendekati nol karena ekonomi pulih dari krisis keuangan.

Pada pertemuan itu, pejabat FOMC mengindikasikan bahwa mereka kemungkinan akan menyetujui dua kenaikan suku bunga lagi, sehingga total di 2018 menjadi empat kenaikan suku bunga. Keyakinan pelaku pasar di pasar berjangka hanya memiliki kesempatan 50,9 persen untuk kenaikan empat kali, menurut alat FedWatch CME.

Powell berbicara panjang lebar tentang data pekerjaan dan mengatakan meski tekanan upah tetap moderat, namun masih ada alasan yang kuat untuk meyakini ekonomi AS hampir mencapai pekerjaan penuh. Tingkat pengangguran mencapai 3,8 persen dan merupakan tingkat terendah sejak 1969.



"Hari ini, kebanyakan orang Amerika yang menginginkan pekerjaan dapat menemukannya. Permintaan yang tinggi untuk pekerja harus mendukung pertumbuhan upah dan partisipasi angkatan kerja," kata Powell.

Seperti yang telah dia lakukan di masa lalu, Powell menekankan perlunya tidak membiarkan kebijakan akomodatif bertahan terlalu lama. Dia menunjukkan dua resesi terakhir disebabkan oleh ketidakseimbangan keuangan dibandingkan dengan kondisi inflasi. Akan tetapi, dia menegaskan, tidak melihat sesuatu yang mengkhawatirkan dari harga aset saat ini.

"Sementara beberapa harga aset tinggi menurut standar historis, saya tidak melihat tanda-tanda luas dari pinjaman atau leverage yang berlebihan. Selain itu, bank memiliki tingkat modal dan likuiditas jauh lebih besar daripada sebelum krisis," pungkas Powell.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id