Ilustrasi. FOTO: AFP.
Ilustrasi. FOTO: AFP.

Risiko Ekonomi Masih Tinggi Meski Indeks Saham Positif

Ekonomi bursa saham
Nia Deviyana • 02 Desember 2019 18:02
Washington: Tahun ini pasar saham mengalami bullish yang cukup baik, utamanya pada Desember yang disebut-sebut sebagai tahun terbaik. Indeks S&P naik lebih dari 25 persen pada tahun ini. Perayaan Thanksgiving secara teknis positif untuk pasar.
 
Namun, dalam minggu mendatang fokus investor akan bergerak ke topik perdagangan, dan itulah yang menjadi risiko terbesar menjelang akhir tahun.
 
Dilansir CNBC International, Senin, 2 Desember 2019, risiko perdagangan utama masih seputar perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok sudah dekat, tetapi belum bisa memastikan apakah 15 Desember kesepakatan tersebut sudah bisa ditandatangani.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ditambah, penandatanganan legislasi Trump yang mendukung para pengunjuk rasa Hong Kong menarik reaksi negatif dari Beijing, dan menambah ketidakpastian pembicaraan perdagangan.
 
Di sisi lain, meski perang dagang menjadi risiko utama yang diantisipasi investor, kebijakan suku bunga The Fed juga menjadi isu utama.
 
Ekonomi telah menunjukkan beberapa tanda-tanda naik, hal ini membuat para pelaku pasar mencari pertumbuhan yang lebih baik di kuartal keempat. Tetapi daya beli masih belum maksimal sehingga penjualan di sektor pariwisata menjadi indikator penting untuk diperhatikan.
 
Data ketenagakerjaan tetap yang paling penting dari laporan ekonomi, karena pasar tenaga kerja yang kuat sangat penting untuk kepercayaan dan pengeluaran konsumen.
 
Pada Oktober, aktivitas manufaktur ISM meningkat, dan meskipun tetap dalam kontraksi, beberapa ekonom mengatakan perlambatan mungkin menunjukkan tanda-tanda bottoming.
 
Indeks ISM saat ini diperkirakan berada di level 49,4, masih di bawah 50, yang berarti ekspansi, tetapi lebih baik dari Oktober yang berada di level 48,3.
 
Sedangkan di pasar minyak, OPEC dan Rusia mengadakan pertemuan di Wina dan para analis memperkirakan perjanjian untuk membatasi produksi minyak akan diperpanjang. Hal tersebut guna menstabilkan harga minyak yang diprediksi turun karena kelebihan pasokan.
 
Namun, Rusia mungkin berusaha mengubah aturan tentang berapa produksi minyaknya, sehingga pertemuan itu mungkin tidak terjadi seperti yang diharapkan, demikian prediksi beberapa analis.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif