Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)

Defisit Perdagangan Jasa Tiongkok Membengkak di Januari

Ekonomi ekonomi china tiongkok
Angga Bratadharma • 02 Maret 2019 21:04
Beijing: Administrasi Negara Valuta Asing atau State Administration of Foreign Exchange (SAFE) mencatat defisit Tiongkok dalam perdagangan jasa luar negeri terus meningkat pada Januari. Defisit tumbuh menjadi USD22,8 miliar pada bulan lalu atau naik dibandingkan dengan posisi USD22,6 miliar pada Desember 2018.
 
"Pendapatan dari perdagangan jasa mencapai USD21,3 miliar pada bulan lalu, sementara pengeluarannya USD44,1 miliar," ungkap SAFE, seperti dilansir dari Xinhua, Sabtu, 2 Maret 2019.
 
Berbeda dengan perdagangan barang dagangan, perdagangan jasa mengacu pada penjualan dan pengiriman produk tidak berwujud seperti transportasi, pariwisata, telekomunikasi, konstruksi, periklanan, komputasi dan akuntansi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tiongkok telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pengembangan perdagangan jasa, termasuk secara bertahap membuka sektor keuangan, pendidikan, budaya dan perawatan medis. SAFE mulai menerbitkan data bulanan tentang perdagangan layanan pada Januari 2014 untuk meningkatkan transparansi statistik neraca pembayaran.
 
Sejak awal 2015, SAFE juga memasukkan data bulanan tentang perdagangan barang dagangan dalam laporannya. Bulan lalu, Tiongkok melihat surplus sebesar USD46 miliar dalam perdagangan barang asing atau turun dibandingkan dengan posisi USD55,7 miliar pada Desember tahun lalu.
 
Di sisi lain, Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan Tiongkok harus mencari perkembangan ekonomi yang stabil dengan tidak lupa untuk menangkis risiko terhadap sistem keuangannya. Hal ini sejalan dengan melemahnya pertumbuhan dan masih terjadinya perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).
 
Ekonomi Tiongkok tumbuh pada laju paling lambat dalam hampir 30 tahun, mendorong para pembuat kebijakan untuk mendorong pertumbuhan dengan mengurangi kondisi kredit dan memotong pajak. Pemerintah Tiongkok terus berupaya agar perlambatan ekonomi tidak terus terjadi.
 
Menurut Xi mencegah dan menyelesaikan risiko keuangan, terutama risiko keuangan sistemik adalah tugas mendasar. Hal itu menjadi penting agar perekonomian bisa terus tumbuh maksimal sejalan dengan mitigasi risiko yang lebih baik lagi, mengingat ketidakapastian tengah terjadi.
 
Sebelumnya, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang menegaskan kembali bahwa Tiongkok tidak akan menggunakan stimulus "seperti banjir" seperti yang dilepaskan saat penurunan pertumbuhan ekonomi di masa lalu.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif