Ekonomi AS Diperkirakan Alami Resesi di 2020
Ilustrasi (THOMAS SAMSON/AFP)
New York: Dipotong oleh kebijakan pemotongan pajak pada tahun ini, kinerja perekonomian Amerika Serikat (AS) memuncak pada kuartal kedua dan diperkirakan semakin kehilangan tenaga pada 2019 dengan pertumbuhan ekonomi kian melambat serta adanya peluang terjadinya resesi.

Mengutip CNBC, Sabtu, 24 November 2018, kondisi itu yang menjadi salah satu alasan besar pasar saham telah melemah karena pembeli bergegas ke surat utang dan tingkat utang perusahaan membengkak lebih tinggi. Pandangan investor, pada kenyataannya, mungkin bahkan lebih suram daripada pandangan para ekonom.

Perusahaan-perusahaan besar minggu ini telah merilis perkiraan untuk tahun depan, dan Goldman Sachs dan JP Morgan melihat pertumbuhan melambat menjadi di bawah dua persen pada paruh kedua di 2019. Tetapi pada saat yang sama, kedua perusahaan mengharapkan Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali.

Para ekonom menunjukkan sejumlah faktor untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, tetapi memuncaki daftar faktor yang menakutkan untuk pasar adalah kenaikan suku bunga the Fed serta dampak dari tarif dan perang perdagangan, jika mereka terus berlanjut.

Para ekonom tidak memperkirakan resesi tahun depan, tetapi pada 2020, sepertinya bisa terjadi, beberapa ekonom mengatakan. Kondisi itu dengan alasan pertumbuhan ekonomi yang mulai kehilangan tenaga dan adanya penyesuaian suku bunga acuan dari the Fed.

"Itu tergantung pada the Fed. Jika mereka terus mengikuti lintasan saat ini (menaikkan suku bunga acuan) saya pikir (ada resesi di) paruh pertama di 2020," kata Kepala Ekonom Amerika di Natixis Joseph LaVorgna. LaVorgna mengharapkan pertumbuhan 2,5 persen tahun depan, meskipun lebih lambat di paruh kedua.

Harga saham sekarang terbilang datar untuk tahun ini, setelah penurunan hampir sembilan persen di S&P 500 sejak September. Lebih dari 40 persen saham di S&P 500 telah melihat setidaknya penurunan 20 persen, mencapai level pasar lesu. Pada saat yang sama, selisih kredit telah melebar baik di tingkat imbal hasil hingga level investment grade.

"Lihat betapa banyak hal telah diperketat. Jika Anda melihat ke seluruh dunia, ada perlambatan pertumbuhan uang dan peningkatan imbal hasil di seluruh dunia, dan biasanya ketika Anda mengencangkan seperti itu, ini yang terjadi," kata Kepala Strategi Investasi Leuthold Group James Paulsen.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id