Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Dolar AS Perkasa di Hadapan Poundsterling

Ekonomi dolar as
16 Mei 2019 09:32
New York: Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) menguat pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), di tengah melemahnya poundsterling Inggris karena kisruh yang berkelanjutan atas Brexit. Perdana Menteri Inggris Theresa May mengkonfirmasikan bahwa dia masih ingin Inggris meninggalkan Uni Eropa.
 
Mengutip Antara, Kamis, 16 Mei 2019, namun, PM May menolak referendum kedua tentang Serikat Kepabeanan Uni Eropa. Laporan media yang meluas di London pada Rabu mengatakan May akan mengajukan proposal Brexit kepada Anggota Parlemen (MP) pada awal Juni untuk keempat kalinya.
 
Downing Street mengatakan pemerintah berencana untuk menerbitkan RUU Penarikan Perjanjian pada pekan pertama Juni mulai tanggal 3 untuk memaksa anggota parlemen ke dalam pilihan antara kesepakatan di atas meja atau kemungkinan Brexit dibatalkan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, Partai Serikat Demokrat (DUP) di House of Commons dilaporkan secara tegas tidak berencana untuk mendukung RUU tersebut. Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang itu terhadap enam mata uang utama, naik 0,04 persen pada 97,5705 pada akhir perdagangan di New York.
 
Pada akhir perdagangan valuta asing itu, euro jatuh ke 1,1203 dolar dari 1,1207 dolar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2843 dolar dari 1,2904 dolar AS di sesi sebelumnya. Sementara dolar Australia turun menjadi 0,6927 dolar dari 0,6944 dolar.
 
Kurs dolar AS dikutip pada angka109,55 yen Jepang, lebih rendah dari 109,63 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 1,0092 franc Swiss dari 1,0094 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3438 dolar Kanada dari 1,3466 dolar Kanada.
 
Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average berakhir naik 115,97 poin atau 0,45 persen menjadi 25.648,02 poin. Demikian pula dengan Indeks S&P 500 melonjak 16,55 poin atau 0,58 persen menjadi 2.850,96 poin dan Indeks Komposit Nasdaq meningkat 87,65 poin atau 1,13 persen, menjadi 7.822,15.
 
Bloomberg melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump siap untuk menunda keputusan tarif hingga enam bulan untuk menghindari negosiasi berlebihan dengan Uni Eropa dan Jepang. Saham pun naik di tengah berita tersebut dan memangkas kerugian sebelumnya.
 
Di sisi ekonomi, rilis data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan memicu kekhawatiran bahwa prospek perdagangan global yang memburuk akan menghambat pertumbuhan ekonomi global.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif