Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Dolar AS Menguat Tipis

Ekonomi dolar as
23 Maret 2019 11:01
New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) sedikit menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Ini terjadi di tengah anjloknya euro akibat kekhawatiran perlambatan ekonomi Eropa, dipicu oleh data manufaktur Jerman yang suram.
 
Mengutip Antara, Sabtu, 23 Maret 2019, pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1293 dari USD1,1353 pada sesi sebelumnya. Sementara pound Inggris naik menjadi USD1,3207 dibandingkan dengan USD1,3075 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7083 dibandingkan dengan USD0,7107.
 
Sedangkan USD dibeli 110,06 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 110,77 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD naik menjadi 0,9944 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9937 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3413 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3376 dolar Kanada.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks Pembelian Manajer (PMI) untuk sektor manufaktur Jerman turun menjadi 44,7 poin dari 47,6 poin pada Maret, penurunan tertajam sejak Agustus 2012, menurut indeks PMI awal yang diterbitkan pada Jumat.
 
Angka tersebut didasarkan pada survei bulanan terhadap sekitar 500 manajer pembelian dan direktur pelaksana industri manufaktur Jerman, yang disediakan oleh Asosiasi Jerman untuk Manajemen Rantai Pasokan, Pengadaan, dan Logistik.
 
Namun demikian, USD jatuh terhadap mata uang safe-haven yen Jepang pada Jumat, karena data manufaktur AS yang suram memicu kekhawatiran tentang ekonomi yang lebih luas. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS pun mengisyaratkan peningkatan kekhawatiran akan resesi.
 
Pada Jumat, spread atau selisih antara imbal hasil surat utang Pemerintah AS bertenor tiga bulan dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun terbalik untuk pertama kalinya sejak 2007, setelah data PMI manufaktur AS tidak memenuhi perkiraan. Pembalikan kurva imbal hasil ini secara luas dilihat sebagai indikator utama resesi.
 
“Anda harus menganggapnya serius bahwa itu adalah sinyal untuk perlambatan pertumbuhan atau potensi resesi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Inilah yang diperhatikan oleh the Fed," kata Kepala Manajemen Pendapatan Tetap Global SEI Investments Co, Sean Simko, di Oaks, Pennsylvania.
 
Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 460,19 poin atau 1,77 persen menjadi 25.502,32 poin. Indeks S&P 500 turun 54,17 poin atau 1,90 persen menjadi 2.800,71 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir turun 196,29 poin atau 2,50 persen menjadi 7.642,67 poin.
 
Sebanyak 10 dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup lebih rendah, dengan sektor material dan keuangan masing-masing jatuh 2,99 persen dan 2,77 persen, memimpin penurunan. Sementara utilitas naik sekitar 0,7 persen, satu-satunya sektor yang menguat.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif