Pakar Kritik Keputusan Tiongkok Mengurangi Pembatasan Investasi Asing
Ilustrasi (FOTO: SCMP)
Beijing: Tiongkok memutuskan untuk mengurangi pembatasan investasi asing di sejumlah sektor mulai dari pertanian hingga industri perbankan. Keputusan itu diambil karena Beijing dan Washington terus berdebat dalam perselisihan perdagangan yang sampai sekarang belum mencapai kata sepakat di antara kedua negara.

Mengutip CNBC, Sabtu, 30 Juni 2018, namun langkah itu dilihat hanya sebagai langkah kecil yang tidak mungkin maksimal menyelesaikan persoalan yang datang dari administrasi Trump tentang apa yang dikatakan Gedung Putih sebagai praktik perdagangan Tiongkok yang tidak adil. Pakar atau ahli perdagangan pun mengkritik keputusan tersebut karena tidak signifikan.

Komisi Pengembangan dan Reformasi Nasional Tiongkok menerbitkan versi baru dari daftar negatifnya yang merinci industri di mana investasi asing terbatas atau dilarang. Aturan baru, yang berlaku 28 Juli, mencabut pembatasan pada sektor-sektor termasuk industri perbankan, otomotif, industri berat, dan pertanian.

Langkah itu muncul ketika Kongres dan Gedung Putih mempertimbangkan pembatasan ketat terhadap investasi Tiongkok di AS, terutama transaksi yang melibatkan perusahaan teknologi Amerika. Diskusi itu mengikuti serangkaian ancaman tarif administrasi Trump atas ekspor Tiongkok ke AS, termasuk bea atas produk Tiongkok senilai USD50 miliar.

Mitra dagang utama Tiongkok, termasuk AS dan Uni Eropa, mengkritik peraturan investasi yang membuat Tiongkok bebas berinvestasi di pasar mereka sementara Tiongkok membatasi kemampuan perusahaan asing untuk memasuki ekonomi terbesar kedua di dunia. Pengumuman Kamis disambut dengan skeptis oleh para kritikus kebijakan perdagangan Tiongkok.

"Setiap kali orang Tiongkok mengatakan, 'Kami menciptakan lebih banyak ruang di pasar kami untuk Anda beroperasi,' masih ada daftar panjang hal-hal yang tidak boleh Anda lakukan," kata Analis Tiongkok di American Enterprise Derek Scissors.

"Orang Tiongkok tidak mengizinkan kompetisi dengan berbagai perusahaan mereka. Mereka memiliki sekumpulan bisnis milik negara yang tidak mereka izinkan keluar dari bisnis," tambah Derek Scissors.

Selain berikrar untuk menghapus batas kepemilikan pada perusahaan asuransi dan pembuat mobil dalam tiga hingga lima tahun ke depan, Tiongkok juga mengurangi atau menghapus kepemilikan atas bisnis termasuk pembuatan kapal dan pesawat, jaringan listrik dan pemuliaan tanaman baru selain gandum dan jagung.

"Kami mengharapkan Tiongkok untuk benar-benar membiarkan beberapa perusahaan keuangan asing besar datang untuk membuka cabang di berbagai bidang seperti sekuritas dan asuransi. Tiongkok mungkin tidak membiarkan mereka semua sekaligus, tapi kami berharap itu menampilkan beberapa contoh keberhasilan," kata Kepala Ekonom AVIC Securities Xu Weihong.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id