Analis Sebut Pasar Minyak Cenderung Sulit Diprediksi
Ilustrasi (FOTO: Xinhua)
New York: Analis mengatakan pasar minyak cenderung menjadi semakin tidak dapat diprediksi selama beberapa bulan mendatang. Kondisi tersebut terjadi dalam dinamika terbaru yang membentuk minyak mentah berjangka telah berubah secara dramatis sejak reli minyak mentah dimulai.

Patokan internasional minyak mentah Brent telah jatuh hampir sembilan persen dari level tinggi minggu lalu atau lebih dari USD79 per barel. Penurunan terbaru terjadi di tengah munculnya bukti produksi minyak mentah yang lebih tinggi dari gembong OPEC Arab Saudi dan anggota lain dari kartel yang didominasi Timur Tengah termasuk Rusia dan AS.

"Peristiwa politik dan ekonomi membentuk pasar minyak dengan cara yang tidak mereka bentuk selama beberapa waktu. Ketidakpastian yang mengelilingi pasokan global dan keseimbangan permintaan tumbuh hampir sepanjang hari," kata Analis Senior PVM Oil Associates Tamas Varga, dalam sebuah catatan penelitian, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 21 Juli 2018.

Arab Saudi dilaporkan meningkatkan pengiriman minyak mentah ke pasar global hampir 400 ribu hingga 7,6 juta barel per hari (bpd) bulan lalu. Sementara itu, Administrasi Informasi Energi (EIA) mengatakan hasil produksi minyak mentah Amerika naik melampaui 11 juta bpd untuk pertama kalinya.

Peningkatan pesat dalam pengeboran serpih telah membuat AS menambahkan hampir satu juta bpd sejak November. Lebih jauh, lonjakan tak terduga dalam persediaan minyak AS pekan lalu telah menambah sentimen bearish di pasar energi. Nada suram datang pada saat pasokan dan permintaan mentah dunia seimbang.

"Menjelang sanksi terhadap Iran, beberapa anggota OPEC lainnya telah meningkatkan ekspor secara tajam dan ketidakcocokan waktu antara efek ini menekan harga minyak," ungkap Ahli Strategi Energi di Morgan Stanley dalam sebuah catatan penelitian yang diterbitkan.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id