NEWSTICKER
Ilustrasi. Foto: AFP.
Ilustrasi. Foto: AFP.

Tiongkok Bisa Tergelincir ke Resesi Akibat Korona

Ekonomi Virus Korona ekonomi china
Nia Deviyana • 05 Februari 2020 11:09
Shanghai: Tiongkok dapat tergelincir ke resesi teknis apabila virus korona mulai membebani pertumbuhan. Kepala ekonom di Enodo Economics Diana Choyleva mengatakan wabah korona menambah satu daftar masalah yang mesti dihadapi Negeri Tirai Bambu di tengah ketidakpastian ekonomi.
 
"Pertumbuhan tidak hanya melambat secara signifikan di paruh kedua tahun lalu, tetapi tahun ini juga akan menjadi saat yang genting bagi Tiongkok untuk menyelesaikan masalah utang yang sangat besar," jelasnya seperti dilansir CNBC International, Rabu, 5 Februari 2020.
 
Choyleva mengatakan berdasarkan riset Enodo, kerugian kredit yang timbul dari virus korona Tiongkok kemungkinan berjumlah 20 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara itu. Penutupan akses ke provinsi Hubei, (tempat virus pertama kali dilaporkan) sebelumnya belum pernah terjadi dan berdampak signifikan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dampaknya pada ekonomi akan jauh lebih besar dari SARS," imbuhnya.
 
Resesi teknis tergambar dari kontraksi Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut. Ekonomi Tiongkok tumbuh 6,1 persen pada 2019, menandai pertumbuhan PDB paling lambat sejak 1990, yang mana ekonomi terbesar kedua di dunia itu mencatat pertumbuhan PDB enam persen untuk kuartal keempat tahun lalu.
 
Sementara itu, Kepala Ekonom Makroekonomi Asia Pantheon Freya Beamish mengatakan pertumbuhan Tiongkok untuk kuartal pertama bisa turun menjadi kurang dari dua persen secara tahunan atau year on year (yoy), sebagai konsekuensi dari ditutupnya kegiatan bisnis untuk mencegah penyebaran virus.
 
"Ini cukup mengejutkan dan ada dampak serius yang kita lihat setidaknya pada kuartal pertama tahun ini," katanya.
 
Associate Director WisdomTreeAneeka Gupta memperkirakan dampak dari wabah kemungkinan berlanjut selama beberapa bulan.
 
"Penyebaran virus korona adalah hal baru yang tidak diketahui oleh pasar. Kami percaya setidaknya untuk dua-tiga bulan ke depan, akan ada lebih banyak 'rasa sakit' daripada keuntungan, dan ada kemungkinan besar bahwa investor akan berinvestasi dalam aset safe haven lebih banyak," paparnya.
 
Imbauan ini sebelumnya juga diungkapkan Sekretaris Kesehatan Inggris Matt Hancock, yang mengungkapkan virus korona kemungkinan menghantui dalam beberapa bulan mendatang.
 
Di sisi lain, Kepala Global Strategi Ekuitas Kecil dan Menengah JPMorgan, Eduardo Lecubarri mengatakan bahwa meskipun sulit untuk memprediksi berapa lama virus akan membebani pasar, dia tidak melihat ancaman itu tahan lama.
 
"Kami sudah melihat bagaimana ini dimulai, kami tidak tahu bagaimana ini akan berakhir. Namun logika menyatakan ini hambatan jangka pendek sementara untuk pertumbuhan," tukasnya.
 
Mengenai virus korona, otoritas kesehatan Tiongkok mengonfirmasi sebanyak 425 orang meninggal karena wabah ini, sementara jumlah total kasus di negara itu telah meningkat menjadi 20.438 kasus.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif