Illustrasi. Dok: AFP.
Illustrasi. Dok: AFP.

Ketidakpastian Global Masih Tinggi di 2019

Ekonomi ekonomi global
Nia Deviyana • 12 Desember 2018 20:05
Jakarta: Ketidakpastian global diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2019. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok diramal akan mengalami perlambatan.
 
Pengurus Pusat ISEI Destri Damayanti menuturkan perlambatan ekonomi Tiongkok bakal membuat negara tirai bambu ini menggenjot dari sisi konsumsi. Hal ini mengingat jumlah masyarakat menengah atasnya saja mencapai 250 juta jiwa.
 
"Ketidakpastian global masih sangat tinggi di 2029. Mereka sekarang ingin genjot dari sisi konsumsi," ujarnya dalam paparan Evaluasi Ekonomi 2018 dan Outlook 2019 di Kantor Pusat KAHMI, Jakarta Selatan, Rabu, 12 Desember 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, selama ini Tiongkok fokus mendorong ekspor dan investasi ke negara lain. Namun sejak terjadinya perang dagang dengan AS, Tiongkok memilih untuk mengurangi ekspor dan investasi ke negara tersebut dan beralih untuk memperkuat konsumsi dalam negeri. Apalagi perekonomian Tiongkok tahun depan diprediksi hanya tumbuh 6,3 persen.
 
"Penduduk Tiongkok banyak yang golongan menengah ke atas. Ini yang pergi kemana-mana liburan kemana-mana. Ekspansi dia kemana-mana dan solid di investasi. Sekarang mereka akan ke sisi konsumsi," tutur dia.
 

 

 
Sementara itu, ekonomi negeri Paman Sam diproyeksi hanya tumbuh 2,7 persen atau lebih rendah dari 2018 yang sebesar 2,9 persen. Perlambatan ini dipastikan bakal mempengaruhi tatanan perekonomian global kecuali kebijakan suku bunga bank sentral AS yang diramal hanya naik sebanyak dua kali pada tahun depan.
 
Kondisi tersebut secara tidak langsung akan membawa dampak positif bagi pasar keuangan negara berkembang seperti Indonesia. Sebab, imbal hasil AS tak jauh berbeda dengan Indonesia.
 
"Kita berpikir imbal hasil aset di sana enggak akan jomplang jauh dengan kita dan enggak akan memaksa yield kita juga naik," tambah Destri.
 
Namun demikian, pemulihan ekonomi global dipercaya tetap berlangsung secara gradual meski dirundung ketidakpastian. Kata Destri, dunia sedang bergerak menuju titik new normal yang dipicu oleh volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA).
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif