Emas Berjangka Meredup Akibat USD Menguat
Ilustrasi (SEBASTIAN DERUNGSSEBASTIAN DERUNGS/AFP)
Chicago: Emas berjangka di divisi Comex New York Mercantile Exchange ditutup lebih rendah pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena dolar Amerika Serikat (USD) yang lebih kuat memberikan beban. Gerak USD yang menguat sekarang ini tidak ditampik memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang di dunia.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 11 Agustus 2018, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember turun sebanyak USD0,9 dolar atau 0,07 persen menjadi ditutup pada USD1.219 per ons. Sementara itu, indeks SUD yang mengukur dolar terhadap enam saingan naik sebanyak 0,77 persen menjadi 96,37 pada 1845 GMT.

Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan USD yang berarti jika USD naik maka emas berjangka akan turun karena emas, harga dalam USD, menjadi mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya. Meski demikian, emas tetap menjadi salah satu instrumen pilihan bagi para investor, tertuama ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 16,7 sen atau 1,08 persen menjadi menetap di USD15,295 per ons. Platinum untuk Oktober turun sebanyak USD4,5 atau 0,54 persen menjadi ditutup pada USD829,6 per ons.



Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average turun 196,09 poin atau 0,77 persen menjadi 25.313,14. Sedangkan S&P 500 turun sebanyak 20,30 poin atau 0,71 persen menjadi 2,833.28. Kemudian indeks Nasdaq Composite turun 52,67 poin, atau 0,67 persen, menjadi 7.839,11.

Lira Turki jatuh 20 persen terhadap dolar Amerika Serikat (USD) setelah Presiden AS Donald Trump mengesahkan penggandaan tarif pada produk baja dan aluminium dari Turki. Analis mengatakan para investor khawatir tentang ketegangan geopolitik yang telah mengguncang pasar global.

Di sisi ekonomi, Indeks Harga Konsumen AS untuk Semua Konsumen Perkotaan meningkat 0,2 persen pada Juli dengan dasar penyesuaian musiman setelah naik 0,1 persen pada Juni, Departemen Tenaga Kerja mengatakan. Selama 12 bulan terakhir, semua item indeks naik 2,9 persen sebelum penyesuaian musiman.

Tetapi tidak termasuk komponen makanan dan energi yang mudah menguap, yang disebut CPI inti naik 2,4 persen dari tahun sebelumnya, lompatan terbesar sejak September 2008, menurut departemen. Rilis data ini biasanya memberikan efek terhadap pergerakan pasar saham di AS.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id