Tiongkok Buka Pintu Dialog dengan Amerika
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Singapura: Tiongkok siap bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mencari solusi yang menguntungkan kedua pihak di tengah panasnya gejolak perang dagang. Hal itu diungkapkan Wakil Presiden Tiongkok, Wang Qishan, dalam Bloomberg New Economy Forum di Singapura, Selasa, 6 November 2018.

Ratusan tokoh politik dan pengusaha dunia turut hadir dalam acara itu, seperti negarawan AS Henry Kissinger, mantan Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Janet Yellen, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde, hingga pemimpin perusahaan terkemuka, yakni CEO Blackrock Laurence Fink dan pemimpi Infosys Nanda Nilekani.

Sebagai tokoh negara yang mendapat kesempatan pertama memberikan pidato kunci pada forum internasional itu, Wang menekankan kerja sama perdagangan dan ekonomi menjadi perhatian utama Tiongkok dalam menjaga relasi yang sehat dengan AS. Dia meyakini stabilitas hubungan bilateral kedua negara bisa berdampak positif terhadap ekonomi global.

Di hadapan lebih dari 400 tokoh politik dan investor global, Wang berpidato dengan durasi cukup panjang, sekitar 20 menit. Dia menggarisbawahi negosiasi menjadi jalan terbaik untuk memperkuat kerja sama.

Menurutnya, terus bergelut dalam pusaran konflik dagang hanya membawa kehancuran bagi Tiongkok dan AS. Seperti diketahui, dua negara ekonomi raksasa tersebut terlibat dalam perang dagang terbesar yang turut mengguncang perdagangan global.

AS dan Tiongkok saling melemparkan serangan tarif terhadap komoditas impor bernilai miliaran dolar. Akibatnya, negara-negara di dunia kian khawatir konflik dagang yang berkepanjangan bisa berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi global.

"Kami tengah menghadapi tantangan meningkatnya populisme dan unilateralisme," cetus Wang yang dikenal sebagai reformis ekonomi andal dan pegiat antikorupsi di 'Negeri Tirai Bambu'.

Dia melanjutkan, sikap negatif dan kemarahan bukan cara yang tepat untuk mengurai persoalan. "Alih-alih menyelesaikan masalah, menggulirkan hambatan atau perselisihan, hanya memperburuk gejolak pasar global," imbuhnya.

Dia pun kembali menegaskan seruan Tiongkok untuk menjaga prinsip internasional, seperti saling menghormati dan keterbukaan.

Zero Sum Game

Wang menekankan, Tiongkok berprinsip menolak mentalitas Perang Dingin dan politik kekuasaan serta mengingatkan globalisasi bukan zero sum game. "Dalam menghadapi perselisihan dan tantangan, penting untuk memperkuat kerja sama dan diskusi yang setara. Tentunya dengan menegakkan aturan berbasis internasional," urainya.

Tiongkok pun menyuarakan komitmen membuka pintu terhadap pasar internasional. Menurut Wang, pemerintah Tiongkok terus melanjutkan Belt and Road Initiative, menerapkan liberalisasi perdagangan dan investasi, dan mendukung reformasi yang digaungkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Dia menyebut tantangan lain yang dihadapi ialah mempertahankan pertumbuhan ekonomi, juga persoalan demografi dan urbanisasi di negara berkembang. Isu perubahan iklim, kemajuan teknologi, dan kebijakan regulasi yang memadai pun harus menjadi atensi.

"Lanskap politik dan ekonomi global sedang mengalami perubahan paling mendalam sejak akhir Perang Dingin. Seiring munculnya berbagai tantangan, kami coba membuat gebrakan karena tantangan bisa berubah menjadi peluang." (Channelnewsasia/Media Indonesia)



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id