Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Wall Street Menghijau Usai Saham Teknologi Bangkit

Ekonomi wall street
Angga Bratadharma • 22 Mei 2019 07:01
New York: Wall Street berakhir menguat pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Penguatan terjadi karena saham teknologi kembali bangkit dari aksi jual di sesi sebelumnya, memberikan kontribusi ke pasar. Meski demikian perang dagang yang tengah terjadi masih menjadi risiko bagi gerak pasar saham.
 
Mengutip Xinhua, Rabu, 22 Mei 2019, indeks Dow Jones Industrial Average naik 197,43 poin atau 0,77 persen menjadi 25.877,33. Sedangkan S&P 500 meningkat sebanyak 24,13 poin atau 0,85 persen menjadi 2.864,36. Indeks Nasdaq Composite naik 83,35 poin atau 1,08 persen menjadi 7.785,72.
 
Sebanyak 10 dari 11 sektor S&P 500 utama ditutup lebih tinggi, dengan layanan teknologi dan komunikasi masing-masing naik sebanyak 1,20 persen dan 0,96 persen, di antara kelompok-kelompok dengan kinerja terbaik. Namun, kebutuhan pokok konsumen turun sebanyak 0,31 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saham terkait teknologi dipicu oleh berita bahwa Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) mengeluarkan lisensi sementara 90 hari melonggarkan pembatasan pada kesepakatan bisnis dengan raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei. Kondisi ini akhirnya memberikan tekanan terhadap gerak saham teknologi di pasar saham AS.
 
Di sisi ekonomi, National Association of Realtors mengatakan, penjualan rumah yang ada di AS menurun untuk bulan kedua berturut-turut pada April, atau pada kecepatan yang jauh lebih lambat. AS berharap kondisi ini bisa mengalami perbaikan di masa-masa yang akan datang.
 
Total penjualan rumah yang ada, transaksi yang diselesaikan dan mencakup rumah keluarga tunggal, townhome, kondominium, dan koperasi, turun sebanyak 0,4 persen dari Maret ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 5,19 juta pada April.
 
Sebelumnya, analis di Kamboja mengatakan kebijakan proteksionisme AS telah merusak aturan dan norma perdagangan internasional. Ekonomi dunia, Ketua Institut Pengembangan Sumber Daya Kamboja Mey Kalyan mengatakan, terutama di Kamboja, akan menderita karena 'serangan' perdagangan Washington terhadap Tiongkok dan negara-negara lain untuk waktu yang lama.
 
"Bahkan lebih disesalkan bahwa aturan perdagangan internasional dan norma-norma yang telah dibangun banyak negara selama beberapa dekade telah hancur dalam semalam oleh negara Adidaya yang memberi pelajaran kepada negara-negara miskin tentang demokrasi dan hak asasi manusia," katanya.
 
Presiden Asian Vision Institute Chheang Vannarith menambahkan sejarah telah menunjukkan bahwa tidak seorang pun akan menang dalam perang dagang, baik AS maupun Tiongkok. Seluruh ekonomi dunia akan terluka jika ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia ini terus meningkat.
 
"AS di bawah Pemerintahan Donald Trump menerapkan unilateralisme dan proteksionisme, yang secara serius mengancam multilateralisme. Negara-negara yang percaya pada sistem multilateral yang terbuka dan inklusif harus bersatu melawan unilateralisme," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif