Gedung The Fed. FOTO: AFP
Gedung The Fed. FOTO: AFP

2020, Fed Diramal Pangkas Suku Bunga Acuan Tiga Kali

Ekonomi ekonomi amerika the fed
Angga Bratadharma • 18 Januari 2020 19:04
New York: Perusahaan yang bergerak di sektor keuangan Swiss, UBS, meramalkan Federal Reserve AS dapat menurunkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada 2020. Perkiraan itu sangat berbeda dari banyak proyeksi lain yang menyerukan agar tidak ada perubahan atau hanya satu pemotongan suku bunga acuan di tahun ini.
 
Kepala Penelitian Ekonomi Global UBS Arend Kapteyn mengatakan tarif yang diterapkan dalam perang perdagangan antara Washington dan Beijing akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadi hanya 0,5 persen secara tahun-ke-tahun pada paruh pertama 2020. Kondisi ini tentu bakal memberikan efek terhadap arah the Fed.
 
AS terakhir menaikkan tarif barang-barang Tiongkok pada September 2019, dengan Tiongkok menindaklanjuti dengan penaikan bea masuknya sendiri pada berbagai produk Amerika. Kenaikan tarif lebih lanjut yang semula dijadwalkan untuk Desember ditunda karena kedua belah pihak sepakat menuntaskan apa yang disebut kesepakatan perdagangan fase satu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami pikir kerusakan tarif ini akan mendorong pertumbuhan AS turun. Itu sebenarnya akan memicu tiga pemotongan (suku bunga acuan oleh) Fed, yang jauh dari konsensus. Tidak ada yang percaya," katanya, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 18 Januari 2020.
 
Kapteyn mencatat para pejabat the Fed telah menunjukkan sedikit kecenderungan untuk melakukan gerakan apapun, dengan notulen pertemuan menunjukkan bahwa mereka berada di kondisi yang nyaman dan ingin melihat penurunan dalam data sebelum menilai kembali posisi mereka terkait penetapan arah kebijakan moneter.
 
"Kami pikir mereka akan mendapatkan penurunan itu (data ekonomi AS). Saya pikir Anda perlu sedikit bukti tambahan sebelum mereka sampai di sana. Jadi, kami berpikir untuk memotong (suku bunga acuan) pertama mungkin pada Maret tetapi kami benar-benar perlu melihat (AS) kehilangan momentum pertumbuhan," tuturnya.
 
Meski demikian, Kapteyn menekankan bahwa dampak dari tarif bisa saja bersifat sementara dan bahwa AS tidak menuju resesi. Tentu ada harapan agar ekonomi AS tidak resesi dan sejumlah risiko yang di antaranya perang dagang bisa segera dihentikan demi kepentingan bersama.
 
"Meskipun kami mengalami perlambatan besar tapi kami tidak berpikir Anda (AS) bisa mencapai level resesi. Jadi pada dasarnya gangguan sementara, kamu bisa melewatinya dengan cepat dan kemudian semuanya kembali ke tren," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif